Menelusuri "Masjid Jin" di Turen, Malang

Catatan perjalanan di Turen, Malang, Jumat, 27 Maret 2009

Ada yang pernah dengar tentang "Masjid Jin" atau "Masjid yang dibangun oleh Jin", atau yang sejenisnya? Bahkan, ada yang menyebut bangunan ini dengan sebutan "masjid tiban" alias masjid yang "tiba-tiba ada". Berita heboh ini pernah santer di area Malang Raya sekitar awal tahun 2009 ini. Bagaimana tidak santer, entah dari mana asalnya, tiba-tiba ada yang mengeluarkan informasi bahwa ada bangunan bagus berupa masjid yang berada di wilayah yang cukup terpencil, dengan kondisi ekonomi warga sekitarnya yang termasuk golongan menengah bawah? Tak ayal lagi, berita ini sempat menghiasi artikel salah satu koran lokal yang berada di kota dingin Malang.

Dampaknya, (menurut cerita salah seorang kawan yang pernah berkunjung di tempat ini) buanyaaaakkkkkk sekali pengunjungnyaa..... karena, bangunannya bagus sekali...!!!

Berdasarkan cerita salah seorang kawan tersebut, membuat saya penasaran akan keberadaan bangunan yang disebut sebagai bangunan masjid. Usai menjadwal kegiatan sehari-hari, akhirnya tercapai pula waktu yang ditentukan. Dimana saya dan beberapa teman lainnya ada waktu luang, maka kami berangkat ke sana, ke bangunan yang disebut kebanyakan orang sebagai "masjid jin".

Berangkat di siang hari menuju Turen membutuhkan waktu perjalanan sekitar 45 menit dari pusat kota Malang. Panas teriknya mentari tak menyurutkan keinginan untuk segera sampai ke "masjid jin". Usai perjalanan yang cukup menantang, karena mengendarai beberapa motor, akhirnya sampai juga di depan bangunan tersebut. Alhamdulillah...sampai dengan selamat di tujuan. Kemudian kami memasuki jalan kampung yang kira-kira lebarnya cukup untuk dilewati sebuah bus pariwisata. Di kiri-kanan jalan tersebut adalah rumah-rumah penduduk, yang lebih familiar disebut sebagai perkampungan. Begitu kami tiba,
dan mendongakkan kepala, kami takjub dengan apa yang kami saksikan di depan kami. Wow.....sebuah bangunan besar menjulang nan megah terpampang. Meski tampak belum jadi 100% tampak bangunan ini sangat luar biasa bagusnya...
Terlihat sangat jelas, seni arsitektur yang sangat mengagumkan telah ditunjukkan ornamen-ornamen yang berada di tempat ini. Perpaduan gaya arsitektur Arab, India, China tampak terlihat dengan jelasnya. Dengan corak warna yang beragam membuat kesan bangunan sekilas bukan sebuah masjid. Sebenarnya ini adalah sebuah bangunan pondok pesantren, namanya Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah. Bertempat di Jalan Wahid Hasyim, Gang Anggur, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Ternyata apa yang diceritakan teman saya benar, bahwa bangunan ini sangatlah megah. Luar biasa... Usai memarkirkan kendaraan kami, yang letaknya di dekat gerbang pintu masuk bangunan pondok pesantren (=untuk mempermudah, saya singkat menjadi "Ponpes"), kami segera memasuki areal pelataran.
Pertama-tama kami diharuskan "ijin" terlebih dahulu kepada penjaga yang ada. Bila diibaratkan sebagai tempat rekreasi, kami diharuskan "membeli tiket masuk" terlebih dahulu di sebuah pos berwarna oranye, dengan hiasan ornamen khas. Sebuah bangunan yang penempatannya agak tidak umum. Sebab sebuah pos yang umumnya "diletakkan" di tepi jalan, pos ini malah ditempatkan di tengah-tengah pelataran. Disini kami diminta mengisi semacam form berukuran kecil dengan berisikan : tujuan kedatangan, berapa orang yang ikut rombongan, asal rombongan, nama pimpinan rombongan. Tanpa membayar uang sepeserpun. Ah....hampir lupa....! Para pengunjung yang akan menuju ke tempat ini diharapkan memakai busana muslim. Jika wanita, diharuskan memakai busana muslim dan mengenakan jilbab. Jika pria, cukup mengenakan pakaian rapi. Aturan ini terpampang di depan pintu masuk bangunan utama.


Memasuki bangunan pertama kali akan dihadapkan dengan semacam ruang yang kalau boleh dikatakan sebagai serambi. Yang salah satu bagian temboknya di desain mirip desain dinding gua yang ada beberapa ruang lagi di balik dinding tersebut. Jadi, mirip seperti bangunan ber-ruang. Dimana di salah satu ruang tersebut ada sebuah ruangan yang penuh dengan akuarium yang ditata sedimikian rupa. Diisi dengan ikan berbagai macam dan jenis.... Nah ada kejadian lucu disini. Saat itu, ruangan akuarium tersebut tampak gelap gulita. Saya mencoba memasuki ruangan tersebut. Karena penasaran, di kejauhan nampak ada sebentuk benda aneh namun bercahaya redup dan bersuara seperti kecipak air yang berada di kolam. Saya dan salah seorang kawan saya memasuki ruangan itu bersamaan dan tiba-tiba lampu di ruangan tersebut menyala! Dan diiringi suara burung-burung berkicau! Kami sempat kaget, namun tertawa-tawa kemudian, karena kekagetan kami....:) .Usut punya usut, ternyata adalah semacam sensor suara/sensor gerak dan lampu yang diaktifkan ketika ada seseorang yang memasuki ruangan tersebut. Betapa canggihnya ponpes ini... Gambar berikut adalah salah satu ruang di sebelah kanan pintu masuk bangunan. Ruang tersebut nampak terdapat berbagai hiasan yang mirip sebuah penginapan.
Baik hiasan yang tergantung di langit-langit ruangan maupun yang ditempelkan pada dinding ruangan. Bahkan, meja kursi yang terdapat di sana terbuat dari bahan kayu yang bentuknya sangat artistik...
Kemudian jika kita memasuki salah satu ruangan, di ruang tersebut akan terhubung oleh suatu pintu. Sehingga kita akan bisa memasuki ruangan yang lain. Dimana tiap ruang mempunyai desain ruangan yang berbeda-beda. Jadi, kita tidak akan bosan memasuki ruang demi ruang.

Dominasi desain ruangannya tidak jauh-jauh dari gaya kaligrafi. Kaligrafi dengan berbagai model, jenis, warna, bentuk, dan corak.
Seperti yang tampak pada gambar di samping ini, adalah salah satu jenis hiasan yang terdapat dalam salah satu ruang. Jam klasik ini tampak begitu bagus diletakkan di tengah-tengah ruangan. Ditempatkan di depan dinding yang bercorak kaligrafi dengan penataan yang sangat mengagumkan.

Sebenarnya di bangunan pondok pesantren ini ada lift. Namun ketika saya berkunjung ke tempat ini, masih belum bisa difungsikan. Tidak begitu mengherankan jika di sini terdapat lift, karena bangunan ini terdiri 10 lantai. Meskipun belum sepenuhnya selesai dibangun, masih ada anak tangga ataupun jalan yang menghubungkan antar ruang/antar lantai yang landai. Sehingga kita tidak merasakan naik ke lantai berikutnya.

Jikalau kita merasa capai ketika berjalan, ada banyak tempat untuk beristirahat. Ada yang berupa kursi dari kayu jati dengan desain yang unik.
Dan di salah satu ruang di lantai atas terdapat jenis ornamen yang menurut saya sangat bagus. Seperti gambar di samping, berupa kursi singgasana dengan hiasan warna kuning keemasan, simbol kemewahan nan anggun. Hiasan bergaya India dengan perpaduan rangkaian kaligrafi di beberapa bagiannya.
Juga turut terdapat gaya modern yang menghiasi berbagai ornamen yang ada di aksesoris maupun dinding-dinding bangunan ini.
Tak luput dari perhatian, ada kolam berukuran cukup besar, yang lengkap berisi ikan aneka ukuran di lantai bagian atas. Jenis yang terlihat saat itu adalah ikan koi, ikan emas, dan lain sebagainya.


Seperti yang tampak dalam gambar berikut. Gambar ini diambil di lantai atas (maaf lupa di lantai berapa). Ini adalah kubah kubah yang berhiaskan semacam motif berwarna-warni yang semarak. Dimana di depannya diletakkan sejenis pohon kurma buatan. Yang unik, pohon kurma buatan ini terdapat lampu-lampu kecilnya, jika dinyalakan, akan tampak kelap-kelip. Yang lebih mengagumkan, di lantai atas lagi terdapat kebun jagung yang tumbuh subur! Juga terdapat semacam pekarangan yang disulap mirip kandang sebagai pemeliharaan beberapa ekor monyet yang sedang berlompatan ke sana-kemari.

Di bagian belakang adalah bangunan ponpes yang masih dalam tahap pengerjaan. Meski demikian, nampak anggun dan mewah unsur seni yang terdapat dalam ornamen-ornamennya.
Bangunan ponpes ini dibangun sejak tahun 1978,
sampai sekarang bangunannya belum selesai
100%. Jadi tidak heran jika pada saat berkunjung ke sana masih terlihat beberapa orang yang bekerja. Arsitek dari pembangunan ponpes ini bukanlah seseorang yang belajar dari ilmu arsitektur di perguruan tinggi, melainkan hasil dari istikharah pemilik pondok, KH Achmad Bahru Mafdloludin Sholeh. Karenanya, bentuknya menjadi sangat unik, seperti perpaduan timur tengah, china dan modern.
Di bagian dalam ada beberapa musholla. Untuk laki-laki terpisah dari musholla wanita. Sayapun sempat melakukan sholat Ashar di salah satu musholla, tidak terlalu besar ruangannya, di beberapa bagian musholla masih terlihat pengerjaan yang belum selesai, tapi sudah bisa digunakan. Meski belum selesai, beberapa kamera CCTV sudah terpasang di bagian dalam musholla. Yang unik adalah jalan menuju ke musholla ini dan tempat wudhu. Dengan suasana yang agak gelap, kita harus melewati beberapa lorong yang hanya cukup untuk dua orang saja. Bentuk lorong pun tidak selalu lurus, terkadang ada yang berbelok maupun malah menuju ke lantai yang lebih atas. Jika salah masuk lorong, dijamin tidak akan sampai ke musholla. Ini juga mungkin yang membuat ponpes ini unik dan menarik buat dikunjungi.
Sudah tak terasa berkeliling ke sana-ke mari menjelajah ruang demi ruang di bangunan ponpes ini. Akhirnya, kami berjalan ke luar bangunan, dimana jalan yang akan menuntun kami menuju tempat luar bangunan. Sebenarnya ketika ke luar menuju bangunan ini (di lantai atas) terdapat aneka kios yang menjajakan berbagai macam suvenir. Namun ketika saya akan berjalan ke luar, kebanyakan kios-kios tersebut sudah tutup, dikarena waktu yang sudah sore.

Usai berjalan kembali sampai menuju ke lantai paling dasar, maka saya sempatkan "mampir" ke bagian samping halaman bangunan ponpes ini. Dimana di bagian ini terdapat tempat peristirahatan yang lebih mirip bergaya kerajaan berwarna putih di hampir semua bagiannya. Tempat ini dibedakan tempatnya untuk pria dan wanita. Berbagai macam tempat duduk diletakkan disini. Sehingga kita bisa melepaskan penat usai "berkelana" di tempat ini sambil menikmati pemandangan pepohonan yang ada di sekitar. Gambar di samping ini adalah bagian depan tempat peristirahatan yang berada di samping depan bangunan ponpes.

Ketika saya berjalan di samping bangunan, secara tidak sengaja saya menemukan "angle" bangunan yang tampak seperti dalam gambar di samping. Begitu mengagumkan! Mirip seperti bangunan kerajaan di negeri dongeng....
Aneka ornamen menghiasi dinding dan pilar-pilar yang terdapat di dalamnya. Sehingga kesan istimewa dan mewah patut disematkan di tempat ini.
Inilah bagian bangunan yang menjadi favorit saya...
Sangat istimewa dengan segala pernak-pernik dan ornamennya. Perpaduan warna putih, biru, krem, kuning, dan lainnya terlihat sangat kompak dan padu....
Namun yang lebih unik lagi adalah di berbagai sudut ruangan tidak dijumpai kotak amal yang biasanya lazim di jumpai di salah satu sudut tempat peribadatan. Ini yang membuat pikiran saya bertanya-tanya. Dapat dana dari mana "sang kreator " ketika merancang, membuat, dan membangun tempat sebagus ini?

Ketika berjalan menuju ke arah pintu ke luar, di salah satu sudut dindingnya terdapat kaligrafi berukuran besar yang "menempel" di sini. Ini adalah salah satu dari sekian banyak kaligrafi yang ada.
Nah, di akhir kunjungan kita diminta mengisi pendapat tentang ponpes ini. Berbagai komentar pun ada, yang kebanyakan menyatakan kekaguman akan kemegahan dan kemewahan bangunan ponpes ini. Bahkan ada yang mengaku tersentuh hatinya ketika memasuki sebuah ruangan. Luar biasa...


Yang menarik, setelah kita menuliskan pendapat, kita tidak ditarik uang sepeser pun! Ada satu papan yang didalamnya dipasang beberapa kliping berita di surat kabar tentang ponpes ini. Di situ juga ada semacam bantahan bahwa ponpes ini dibangun oleh bangsa jin. Setelah puas berkeliling, dan memuaskan rasa ingin tahu saya tentang bangunan ponpes ini, akhirnya saya bisa mengambil suatu kesimpulan, jika ponpes ini bukan dibangun oleh bangsa jin, seperti yang banyak dibicarakan orang. Ini bisa dilihat di salah satu sudut bangunan terdapat foto yang menunjukkan tahapan pembangunan dari beberapa tahun yang berjalan. Saya bisa memahami, karena bangunan ini sangat megah, mewah, sangat luas, dan berada di perkampungan penduduk desa. Mungkin yang bisa jadi bahan renungan buat kita adalah, jika kita mempunyai uang banyak, akankah terbersit di pikiran untuk membuat bangunan semegah dan semewah ponpes ini? Banyak sekali hikmah yang bisa kita dapat dari perjalanan menelusuri ponpes Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah ini.

 

13 Responses to Menelusuri "Masjid Jin" di Turen, Malang

  1. ali Says:
    SUBHANALLAH, secara fisik saya belum pernah menginjakkan kaki kesana, namun melihat foto-foto yg ada subhanallah sangat megah dan artistik bentuknya. Saya punya 2 pendapat mengapa tidak perlu bantuan dana dari pengunjung, Pertama, beliau hanya akan minta imbalan surga Allah di akhirat nanti dan ini sedikit miniatur yg diinginkanya. Kedua, beliau hanya pelaksana, sedangkan pemilik, penyandang dana, pencipta, dan pemelihara bangunan sebenarnya adalah Allah SWT, wallahu 'alam bishawab.
  2. aduystic Says:
    terima kasih telah mengunjungi blog saya.
    saya sendiri jg tdk menyangka ttg luar biasany bentuk bangunan ini dr informasi orang2 yg pernah k sana sebelumnya (sblm saya berangkat k sana).ternyata benar2 luar biasa megah.
    *mgk betul jg pendapat anda...hanya Allah yg tahu...
  3. laniz abideani Says:
    sebenarnya saya sdh prnah k sana, tp jujur smpai skrang saya msih bngung dgn teknik arsitektur pembangunan masjid sekaligus pondok itu tana mmungut ataupun mminta biaya sepeserpun kpda pngunjunya...
    subhanallah... btapa megah skali bngunan itu dgn prpaduan corak bngunan dr brbagai negara dan btapa agung skali amal org tsb
    mlihat keagungan dan kemegahan masjid itu saya jdi kpngin k sana lagi...
  4. Anonymous Says:
    Sminggu lg saya akan ksana. Penasaran banget
  5. Anonymous Says:
    Subhanallah, Allah Maha Besar telah memberikan hidayah kepada sang kreator masjid megah ini, saya sudah melihat langsung Oktober 2011 yll, tidak ada kata lain selain kagum dan tidak masuk diakal, ingin sekali mendengar/membaca ulasan mengenai kisah pembuatan mesjid yang megah ini. Saya anjurkan kepada semua muslim untuk bisa datang dan melihat langsung.
  6. Anonymous Says:
    Subhanallah, Allah Maha Besar telah memberikan hidayah kepada sang kreator masjid megah ini, saya sudah melihat langsung Oktober 2011 yll, tidak ada kata lain selain kagum dan tidak masuk diakal, ingin sekali mendengar/membaca ulasan mengenai kisah pembuatan mesjid yang megah ini. Saya anjurkan kepada semua muslim untuk bisa datang dan melihat langsung.
  7. saudara islam dari Malaysia Says:
    semoga saya ada rezeki untuk mengunjunginya suatu hari nanti. amin
  8. AntiMitos Says:
    Subhanallah, kmarin saya barusan kesana dan memang bagus sendiri. mengenai mitos-mitos mengenai pembangunannya saya kurang setuju. Karena waktu saya kesana ada beberapa orang yang sedan mengecat dan memasang keramik di bangunan tersebut
  9. FAIZALMALIK Says:
    Subhanallah walupun sya belum perah ke sana namun melihat ornamen yang tetera di gambar-gambar di internet, satu yang menjadi pemikiran saya,,,dari manakah sumber dana untuk emebiayai pembangunan kompleks pesantern tersebut..
  10. Anonymous Says:
    tahun 2012, saya sempat berkunjung lagi ke pondok pesantren ini.dengan mengajak "guide" dari pihak ponpes. beliau mengatakan, bahwa segala dana untuk membangun ponpes ini tidak berasal dari meminta-minta. namun dari ikhtiar dari salah satu kyainya [maaf lupa namanya].
    jg beliau sempat memberitahu bahwa pengasuh ponpes ini sebelumnya adalah seorang murid dari yg pernah belajar di negeri saudi. sehubungan kepandaiannya & ingin kembali ke negeri sendiri,sama "gurunya" diberikan biaya untuk membangun pondok pesantren ini, yang akhirnya berkembang sampai saat ini.
  11. aduystic Says:
    tahun 2012, saya sempat berkunjung lagi ke pondok pesantren ini.dengan mengajak "guide" dari pihak ponpes. beliau mengatakan, bahwa segala dana untuk membangun ponpes ini tidak berasal dari meminta-minta. namun dari ikhtiar dari salah satu kyainya [maaf lupa namanya].
    jg beliau sempat memberitahu bahwa pengasuh ponpes ini sebelumnya adalah seorang murid dari yg pernah belajar di negeri saudi. sehubungan kepandaiannya & ingin kembali ke negeri sendiri,sama "gurunya" diberikan biaya untuk membangun pondok pesantren ini, yang akhirnya berkembang sampai saat ini.
  12. Anonymous Says:
    Subhanallah...., Jika Allah mengijinkan suatu saat nanti saya ingin berkunjung ke rumah Allah nan megah ini, sungguh luar bisa....
  13. Anonymous Says:
    Subhanallah y allah bagus sekali masjid ini.
    Saya seumur_umur belum sampai liat masjid semegah ini.