Showing posts with label Peristiwa. Show all posts
Showing posts with label Peristiwa. Show all posts

02 September 2020

Secuil Kisah Mudik yang Makjleb Via Jalur Penerbangan di Masa Pandemi Covid-19

02 September 2020

Yup, sekian lama saya tidak menulis di blog ini. Karena berbagai hal yang berkaitan dengan aneka kesibukan, mood menulis, ide, maupun hal-hal lainnya. Akhirnya bisa juga menulis lagi disini. Rasanya??? Wuaaahhh... plong!! Serasa ada yang baru saja yang hadir disini... Uhuk! Yang paling tidak, memotivasi untuk bisa menulis lagi.

Flashback sejenak, ide (ato lebih tepatnya, mood/semangat baru) menulis (lagi) ini sebenarnya sudah hampir 2 bulan lalu sebenarnya. Setelah sekian lama sudah mulai bisa meredakan suasana yang terjadi, dan bagaimanapun "life must go on". Dan...secara perlahan, akan saya coba menulis satu-persatu tentang apa saja, yang ada di sekitar saya, yang siapa tahu bisa menginspirasi siapa saja untuk lebih baik dalam berbuat maupun bertindak...

Dimulai dari tulisan sekarang ini. 

Dari sekian perjalanan penerbangan yang pernah saya lakukan, yang umumnya adalah perjalan mudik lebaran dan perjalanan balik lebaran (dari Bandara Internasional Lombok, Nusa Tenggara Barat menuju Bandara Internasional Juanda, Jawa Timur. Maupun arah sebaliknya). Kali ini adalah perjalanan penerbangan yang bagi saya, penuh rasa emosional, tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya mengikuti prosedur yang berlaku. Bagaimana tidak? Sejak sekitar bulan Maret 2020, di wilayah Indonesia telah diberlakukan pembatasan untuk penerbangan, bahkan tidak sedikit maskapai-maskapai meng-grounded-kan pesawat-pesawat mereka akibat dampak pandemi Covid-19 yang melanda dunia, khususnya Indonesia. Alhasil, 3 bulan berselang lalu-lintas penerbangan hanya diberlakukan untuk hal-hal yang bersifat urgent/sangat penting. Kalaupun mau mengikuti penerbangan, harus mengikuti prosedur yang cukup susah. Susah karena alur kesehatan yang harus dijalankan, waktu menunggu hasil tes kesehatan, belum lagi biaya tambahan, dan sebagainya. Susah sekali gaes!! Benar-benar ujian nyata kehidupan, yang mungkin selama ini hanya ada dalam skenario film-film Barat...

Langsung saja. Begini, tepat tanggal 13 Juli 2020, sekitar jam 19.45 WITA, saya mendapat kabar duka dari keluarga di Malang (Jawa Timur). Berita yang sungguh mengagetkan, mengejutkan, menyesakkan dada, menyedihkan, & serasa campur-campur. Yakni, telah berpulangnya ayahanda ke rahmatullah. Dan saya serasa tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Hanya bisa berdoa dari jauh, dan harapan untuk pulang secepatnya? Hal yang mustahil!! :( Karena pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia. 

Fokus untuk tulisan kali ini bukan tentang suasana duka saya dan keluarga, namun catatan perjalanan mulai persiapan perjalanan menuju Malang, Jawa Timur dari Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Lanjut lagi...

Usai saya menerima kabar duka dari rumah Malang, saya melaporkan situasi yang terjadi ke tempat saya bekerja juga ke beberapa sahabat. Karena situasi yang terjadi saat itu untuk penerbangan adalah para penumpang diharuskan mengikuti serangkaian prosedur "rapid test Covid-19" di rumah sakit/puskesmas/klinik/laboratorium kesehatan yang mengadakan tes tersebut. Beberapa hal tentang informasi penerbangan langsung saya cari malam itu juga. Yang antara lain adalah para penumpang wajib datang 2 jam sebelum jam penerbangan, penumpang wajib membawa surat hasil rapid test Covid-19 dan surat keterangan dokter, penumpang wajib dalam kondisi badan yang benar-benar sehat, dan lain sebagainya.



Sehubungan dengan itu, beberapa skenario yang bisa saya ambil malam itu sebelum berangkat pulang ke Malang adalah:

1. Usai melaksanakan rapid test Covid-19 pagi, dan hasilnya bisa keluar secepatnya, saya pulang pada penerbangan siang (karena jadwal penerbangan sore tidak ada, kalaupun ada, termasuk penerbangan kategori bertarif tinggi)

2. Usai melaksanakan rapid test Covid-19 pagi, dan hasilnya lebih dari jam 10 pagi, saya pulang pada penerbangan keesokan harinya (Rabu, 15/07/2020).

Fix! 2 skenario rencana sudah tersusun, tinggal persiapan dan "packing".

Info dari sahabat malam itu, klinik kesehatan yang dekat dengan tempat tinggal saya di Mataram saat itu sudah tutup. Baru besok paginya jam 8 sudah buka kembali. Namun, ada kabar bahwa sebelum buka klinik tersebut, orang-orang yang akan mengikuti serangkaian "rapid test Covid-19" untuk mengambil nomor antrian terlebih dahulu. Setelah berdiskusi dengan para sahabat, ditentukanlah bahwa saya harus datang pagi. 

14 Juli 2020, jam 07.15 WITA saya sudah datang di Laboratorium Hepatika Mataram, lokasi rapid test Covid-19 yang paling dekat dengan tempat tinggal saya di Mataram. Begitu masuk halaman gedung bercat putih tersebut, masih terlihat petugas kebersihan sedang menyapu halaman, dan saya lihat suasana yang sedikit orang yang tampak di sekitaran situ. Nampaknya akan rapid test Covid-19 juga. Batin saya mengatakan, "Orangnya sedikit yang terlihat, yang duduk di tempat menunggu sekitaran 6 orang, mudah-mudahan dapat nomor antrian awal..."

Saya melangkah demi selangkah menuju meja tempat nomor antrian berada. Setelah memberitahu keperluan kepada petugas, saya disodori kartu kecil bertuliskan nomor antrian. Berapa coba nomor antrian yang saya dapat??? Nomor-nomor awalkah? Tepat!!!! Nomor 125!!! Tepatnya... nomor LEBIH AWAL dari nomor urut 250, yang merupakan batas jumlah rapid test Covid-19 di tempat ini. :)) 

Jam 07.30 WITA, usai mendapat nomor urut antrian, adalah melangkahkan kaki ke area kursi dibawah tenda, merupakan area tunggu yang berada di sisi halaman parkir kendaraan, dan berjarak tak jauh dari meja pengambilan nomor antrian. 

Selama 2 jam dihabiskan untuk menunggu dan mengobrol...

Jam 09.30 WITA, panggilan nomor antrian 100an dimulai. Artinya, saya harus bersiap-siap untuk dipanggil ke ruang periksa.

Benar saja, tak lama kemudian nomor antrian saya, yakni 125, dipanggil sang petugas. Saya bergegas masuk gedung berdinding putih ini. Dan langsung mengikuti antrian lagi untuk keperluan administrasi. Tepatnya, ada 2 pilihan surat hasil tes yang akan dipilih, hasil rapid test Covid-19 plus surat keterangan dokter, atau hasil rapid test-19 saja. Tiap pilihan ini ada harga masing-masingnya. Pilihan pertama berbiaya Rp 125.000,- sedangkan pilihan kedua berbiaya Rp 95.000,-.

Sehubungan dengan tidak ingin adanya hal-hal di luar kemampuan saya, pilihan pertama saya ambil, untuk keperluan persyaratan penerbangan.

Sekitar 5 menit menunggu, panggilan nomor antrian saya muncul, dan saya diminta memasuki ruang periksa yang ada di sisi kanan saya. Untuk diketahui, di laboratorium ini ada 2 ruang periksa untuk pelaksanaan rapid test Covid-19. Dalam ruang periksa yang berukuran sekitar 5m x 6m itu juga hadir sekitar 5 orang yang akan mengikuti, rapid test Covid-19 seperti saya. Tatkala giliran hadir, saya diminta memposisikan lengan saya diletakkan di meja kayu dalam kondisi lemas. Kemudian sang petugas mengambil sampel darah saya dari posisi siku lengan kanan bagian dalam dengan menggunakan alat suntik yang berukuran kecil. Mungkin sekitar 10 cc yang diambil dalam alat suntik itu. Kurang tahu juga tepatnya berapa cc kapasitas alat suntik itu. Pokoknya ukurannya kecil... 

Usai pengambilan sampel darah, saya tanyakan ke petugas tentang hasil tes kapan bisa diambil. Jawab petugas,"Jam 5 sore bisa diambil di sini, mas..."

Fix!! Artinya saya baru bisa pulang ke Malang pada keesokan hari...

Pada masa menunggu pada siang itu hingga menjelang jam 5 sore, adalah masa-masa yang bisa dikatakan bikin jantung berdebar. Bagaimana tidak? Jika hasil tes "Negatif" artinya saya bisa pulang besok. Jika hasilnya "Positif" saya tidak bisa pulang, dan harus mengkarantina mandiri selama 14 hari. 

Jedueeeerrrr!!! "deg... deg... deg... plas...". 

Rasa "deg...deg...deg"-nya itu ibaratnya seperti kata orang-orang, kira-kira seperti saat-saat akan menghadapi calon mertua ketika akan menanyakan puterinya. Dag...dig...dug... dag... dig... dug... (Uhuuukkk... uhuukk...) >.<

Jam 15.15 WITA, kembali mendatangi laboratorium Hepatika Mataram, bersamaan dengan hujan deras yang melanda kota. Ketika memarkir kendaraan, tampak sekitar 7 orang yang berada di teras gedung dan di meja administrasi untuk mengambil hasil tes dalam rupa satu amplop. Begitu saya mendapatkan hasil tes dan saya buka amplopnya... perlahan-lahan. Alon-alon asal kelakon istilah dalam orang Jawa...

Ada 3 benda dalam amplop tersebut, yaitu 1 lembar surat keterangan hasil rapid test Covid-19, 1 lembar surat keterangan dokter, 1 sampel hasil tes dalam bentuk benda kotak berukuran sekitar 5 cm. Pada keterangan hasil rapid test tersebut dinyatakan "Negatif". Wuiii.... alhamdulillah... artinya besok bisa pulang pada jadwal penerbangan siang jam 12.20 WITA. Di sana juga tertera bahwa masa berlaku surat ini selama 14 hari, terhitung mulai saya menerima hasil tes tersebut. Artinya, jika surat ini dipergunakan untuk keperluan penerbangan, maka bisa digunakan untuk keperluan penerbangan selanjutnya selama masih dalam masa 14 hari tersebut. Jika lebih dari 14 hari, maka dia wajib untuk melaksanakan rapid test Covid-19 di tempat dia berada saat itu. Huuuhhh...mengandung tewur tenan yooh, sam?? Beginilah yang terjadi saat ini... 

15 Juli 2020, jam 10.30, saya sudah berada di depan pintu masuk Bandara Internasional Lombok (BIL). Nuansa penerapan protokol kesehatan Covid-19 sangat terasa. Di depan pintu masuk, ada 3 wastafel untuk keperluan cuci tangan para calon penumpang. Usai mencuci tangan, saya melangkahkan kaki ke pintu masuk, dan oleh petugas yang memakai kaos tangan dan ber-faceshield saya "ditodong" pake thermogun, prosedur pertama berhasil lewat. Selanjutnya saya melangkahkan kaki sekitar 15 langkah kaki ke deretan 3 meja di sebelah kanan. Kali ini pemeriksaan dokumen bebas rapid test Covid-19. Di sini saya serahkan 1 amplop lengkap berupa berkas 2 surat dan 1 sampel dari laboratorium tempat saya rapid test. Ternyata... di Acc gaes!! Kemudian distempel bertuliskan "Valid", saya beranjak melangkahkan kaki ke dalam lagi, tepatnya bagian "Boarding Pass", untuk melanjutkan administrasi tiket dan bagasi saya. Di tempat ini, boleh dikatakan sepi sekali. Sebenarnya ada 2 deret tempat petugas untuk meladeni beberapa jadwal penerbangan maskapai-maskapai yang ada. Namun pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, hingga bidang penerbangan, memaksa hanya sekitar 5 loket yang melayani pengecekan tiket saat itu. Biasanya kita menunjukkan e-tiket dan KTP asli pada saat "boarding pass", kali ini saya juga mendapat 1 lembar berwarna kuning berupa form isian tentang kondisi kesehatan selama 14 hari terakhir, tujuan penerbangan, maskapai, kursi nomor berapa, alamat asal, alamat yang dituju, dan lain-lain, dan itu semua poin-poin yang wajib diisi dan akan diserahkan di bandara tujuan (bandara tujuan saya Bandara Internasional Juanda). 1 lembar kuning ini terdiri dari pertanyaan-pertanyaan dalam 2 bahasa. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Pertanyaan-pertanyaan itu pun sama, antara sisi kiri dan sisi kanan, hanya berbeda bahasa saja.

Eh...hampir lupa. Pada saat menunggu jadwal penerbangan dimulai, para penumpang dipersilahkan untuk menunggu di ruang tunggu yang telah disediakan bandara. Sudah saya perkirakan sebelumnya, saat saya melangkah ke ruang tunggu yang cukup luas ini, pada bagian-bagian tertentu di kursi gandeng deret 5 tersebut terdapat 2 tanda silang yang selang-seling diantara kursi-kursi tersebut. Artinya, setiap penumpang tidak bisa duduk berdampingan langsung. Jadi ada jarak 1 kursi kosong (yang bertanda silang berwarna orens, tidak boleh diduduki) baru kursi sebelahnya boleh diduduki. Begitu seterusnya.

Dalam penerbangan kali ini saya memakai jasa penerbangan dari maskapai Citilink. Di dalam pesawat terdiri dari 2 berjajar ke belakang dengan masing-masing baris terdiri dari 3 kursi. Di sini, kursi bagian tengah tidak diperkenankan untuk diduduki. Untuk alasan protokol kesehatan (sosial distancing). Alhasil, dengan hal demikian jumlah penumpang yang bisa dibawa dalam 1 pesawat jauh berkurang dari seluruh kapasitas penuh yang ada. Saya mendapat kursi di urutan 27 D. Bagian belakang gaes....

Penerbangan dimulai... hening... sunyi... senyap...

Hanya suara mesin pesawat yang terasa. Sesekali pesawat tarasa terayun-ayun mengikuti pola angin yang menerpa. Everything is okay... it's normal...

Waktu tempuh penerbangan di udara dari BIL menuju Bandara Juanda tepat 1 jam. 

Usai mendarat, dan mengambil bagasi di bandara Juanda, sebelum menuju pintu ke luar, ada meja petugas yang mengambil form kertas kuning yang saya terima dari bagian "boarding pass" di BIL. Ternyata lembar kuning tersebut disobek di bagian tengah. Bagian yang berbahasa Indonesia diambil petugas, sedangkan yang berbahasa Inggris diserahkan kembali ke penumpang. Eaaaaaaalaaaa.... cuma gitu aja toh....

Kemudian usai antri mengambil bagasi, saya melangkahkan kaki ke pintu ke luar, untuk segera menunggu panggilan travel yang mengantar perjalanan pulang ke Malang...

=====================

25 Juli 2020

Ini adalah waktu saya balik kembali ke Mataram, setelah usai melaksanakan tugas-tugas yang ada di rumah Malang. Sebenarnya masa berlaku surat rapid test Covid-19 saya selama 14 hari adalah berakhir tanggal 27 Juli. Namun untuk memberikan kesempatan beristirahat dan persiapan untuk kembali kerja di Mataram, saya majukan lebih awal. Bertepatan besok adalah hari Minggu, cukup waktu untuk beristirahat sejenak...

Kali ini perjalanan menantang telah dimulai sejak pukul 02.00 WIB. Saat saya masih tidur, ditelpon oleh agen travel perjalanan untuk segera bersiap-siap dalam penjemputan pada jam 04.00 WIB! Jdueerrrr!!! 

Sebelumnya, saya memang sudah memesan penjemputan ini dan penjemputan akan dilaksanakan pada jam 05.00 WIB. Sedangkan penerbangan saya dimajukan menjadi jam 09.40 WIB, dari jam sebelumnya pada 10.40 WIB. Haiiisss.....!!! Serba "kemajuan" niihh, bro..!!

Alhasil saya harus bergegas bangun, mandi pada dini hari (perlu diketahui, saat itu wilayah Malang Raya sedang dingin-dinginnya cuacanya. Sehingga air di kamar mandi serasa dingin seperti air di kulkas! Seruu... mandi pake air sedingin air kulkas... wkwkwk).

Tliiluutt... tliiiluutt....

Tak lama kemudian, handphone saya berbunyi. Dari agen travel ternyata, dapat kabar lagi yang menyebutkan bahwa penjemputan dimajukan lagi pada jam 03.30 WIB. Apaaaa...??? Wkwkwkwkwk..... terusno Joonn.... wkwkwkw....

Sebenarnya persiapan sudah saya lakukan dari kemarin, hanya saja persiapan dari bangun tidur sampe mau berangkat yang agak gopoh-gopoh... wkwkwkw...

Jam 03.30 WIB, saya naik mobil travel yang akan mengantarkan ke Bandara Internasional Juanda dari rumah Malang. Ternyata di dalam mobil sudah ada 1 penumpang yang bertujuan sama dengan saya, hanya beda jadwal jam penerbangan. Saya lebih siang, sedang bapak di depan saya sekitar jam 07.00 WIB. Sehubungan dilewatkan jalur tol Malang hinngga Sidoarjo, waktu tempuh dari Malang hingga Surabaya dapat dipangkas menjadi 1,5 jam saja. Jika lewat jalur normal rata-rata 2-2,5 jam.

Jam 05.00 WIB, saya sudah sampai di tempat duduk depan pintu masuk bandara Juanda. Masih sepi penumpang di area parkiran kendaraan. Begitu pula di sekitaran tempat duduk saya berada, tidak begitu banyak orang yang datang. 

Jam 06.00 WIB, dan mentari sudah menampakkan jati dirinya untuk menerangi semesta alam, suasana sudah mulai ramai. Saya tetap duduk di tempat semula.

Jam 07.00 WIB, saya baru bergegas ke pintu masuk. Sebenarnya jam penerbangan saya masih lama (jam 09.40 WIB), berhubung saya tidak ingin terlewatkan tentang suasana pandemi, lebih baik segera masuk, siapa tahu ada hal-hal/prosedur baru yang harus dilaksanakan oleh calon penumpang. Betul saja, begitu menunjukkan e-tiket, saya dihadapkan pada 4 meja yang didepannya tertutup kaca bening. Saya diminta menunjukkan surat rapid test Covid-19 yang didapat ketika berada di laboratorium Mataram, dan ternyata mendapatkan stempel "Valid" lagi. Dan ada himbauan dari petugas bahwa diminta untuk menginstall aplikasi di handphone berupa aplikasi "eHAC Indonesia". Ternyata aplikasi ini berupa form isian yang mirip dengan isian lembar kuning yang saya terima pada saat berangkat dari BIL. Ouuwww....begitu ternyata...

Kali ini, saya naik pesawat yang berbeda dari pesawat yang saya naiki untuk keperluan pulang. Yaitu pesawat dari maskapai Lion Air, yang menuju Bandara Internasional Lombok. Di ruang tunggu penumpang, sama persis dengan yang ada di BIL, yakni kursi panjang yang ada 5 deret kursi, dibuat selang-seling bertanda silang hitam. Artinya, bagian itu tidak boleh diduduki, untuk menjalankan protokol kesehatan "social distancing". Hmmm.....

Lanjut....

Memasuki pesawat maskapai Lion Air, saya dibuat begitu takjub. Mengapa???

Ukuran kursi yang lebih kecil yang masing-masing deret terdiri dari 3 kursi di sebelah kiri-kanan, ternyata tidak diberlakukan social distancing seperti pada maskapai Citilink. Maksudnya, jika pada pesawat Citilink yang saya naiki sebelumnya dalam 1 deret ada 3 kursi, maka kursi bagian tengah tidak boleh ditempati. Sedangkan pada pesawat Lion Air yang saat itu saya naiki, dalam 1 deret terdiri dari 3 kursi, maka diperbolehkan diduduki semuanya. Wussss..... uhuukk... uhuukkk...

Apalagi saat itu saya sebenarnya dapat nomor kursi sebelah jalan tengah pesawat. Namun nomor kursi saya diduduki seorang tentara, waktu saya tunjukkan tiket saya bersama pramugari, tentara itu tak mau pindah. Yoooh wis laaahhh... karepmu boss. Angeel... angeel. Angeel temen tuturanmu... >.<

Mengalah sajalah... duduk di bagian tengah akhirnya, selama penerbangan ke Bandara Internasional Lombok, Praya, Nusa Tenggara Barat. Untung ukuran body langsing sangat bermanfaat dalam situasi darurat seperti ini. Alhamdulillah... :) . Sekitar 55 menit kemudian, pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan lancar di Bandara Internasional Lombok, siang sekitar jam 11.40 WITA. (aduystic)

#Tulisan ini tidak ada unsur mendiskreditkan pihak-pihak tertentu. Hanya sekedar sharing pengalaman saja...

#DokumentasiFotoPribadi #SemogaPandemiCovid-19SegeraBerlalu

13 July 2010

Romantisnya Suasana Pantai Ngantep dan Pantai Kondang Merak, Kabupaten Malang

Catatan perjalanan Minggu, 11 Juli 2010

Minggu pagi pukul 10.00 WIB di cuaca yang teramat cerah, kami bersepuluh orang dengan mengendarai 5 sepeda motor mulai berangkat dari kota Malang menuju ke arah selatan luar kota. Adapun yang kami tuju adalah 2 pantai yang berada di kawasan selatan Kabupaten Malang. Yaitu pantai Ngantep dan pantai Kondang Merak. 2 pantai yang lokasinya relatif berdekatan, dan juga dapat dikatakan, masih alami untuk dikunjungi. Karena belum sepenuhnya dikelola oleh pemerintah daerah setempat sebagai kawasan wisata sebenarnya.
Perjalanan dimulai ketika iring-iringan rombongan kami melalui jalanan beraspal berbelok-belok, naik-turun. Menjelajah naik-turun bukit, dengan ditemani pemandangan hijaunya tetumbuhan yang berada di kiri-kanan jalan. Sekitar 1,5 jam kemudian, sampailah kami di sebuah perempatan jalan. Yang mana ada 2 petunjuk jalan yang dapat kami jadikan sebagai patokan informasi keberadaan pantai yang kami tuju. Petunjuk jalan yang searah dengan arah kami berangkat menunjukkan arah ke pantai Balekambang, sedang papan petunjuk yang mengarah ke kanan menunjukkan ke arah pantai Kondang Merak. Sedang arah jalan ke kiri tanpa ada papan petunjuknya. Namun saya yakin, jalan ke arah kiri adalah jalur ke arah pantai yang kami tuju. Karena saya dulu sebelumnya pernah tiba di perempatan jalan ini, tatkala menuju pantai Kondang Merak. Arah kendaraan, kami arahkan ke kiri dari perempatan jalan itu. Beriringan kami melajukan kendaraan kami satu-persatu, melewati jalanan berbatu yang lumayan tajam. Juga terkadang ada lubang-lubang yang di sana-sini. Jadi ketika mengendari sepeda motor kami, harus hati-hati sekali. Jalanan yang sangat parah itu membawa kami ke sebuah jembatan dengan pemandangan indah di sebelah kiri-kanan jembatan. Layaknya muara sungai yang berada sekitar 30 meter di bawah kami membawa tampilan alam yang sangat bagus. Sungguh alami, airnya tampak jernih ketika dilihat dari atas jembatan. Usai menikmati suasana di jembatan, kami melanjutkan perjalanan kami melampaui jalanan bebatuan berwarna kuning. Jalanan yang sangat rusak, hampir-hampir tak terawat menjadi teman kami menempuh perjalanan itu. Bebatuan yang tampak tajam2 tertanam di sepanjang jalanan itu. Membuat kami ekstra hati-hati dan harus pandai-pandai melintasi jalanan itu. Sekitar setengah jam kemudian, sampailah kami di daerah perkampungan penduduk. Sempat kami menanyakan arah jalan menuju pantai, karena ada beberapa tikungan yang sempat membingungkan kami. Dengan bantuan seorang warga, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami. Jalanan yang rusak harus kami lewati lagi. Lebih parah dari jalanan yang tadi...benar-benar menguras semangat dan konsentrasi! Usaha kami melewati jalanan itupun berakhir di sebuah tanah lapang yang berada di sekitar beberapa rumah penduduk. Kami segera menitipkan sepeda motor kami dan bergegas berjalan kaki menuju ke arah pantai, yang terdengar keras suara hempasan ombaknya dari tempat kami memarkir kendaraan kami. Kami berjalan kaki melampaui jalan setapak sekitar 200 meter ke arah selatan, dan sedikit berbelok dan kami melihat sebuah pemandangan laut yang sangat indah sekali. Hempasan ombak yang keras, gelombang air laut yang tinggi dan angin laut yang menerpa wajah-wajah kami. Membuat suasana petualangan sangat kentara sekali. Begitu menyenangkan dan sejenak melepas penat dari rutinitas sehari-hari. Menjelajah pantai yang kira-kira panjangnya 1 km menjadi kegiatan kami saat itu. Sambil bermain di ujung pantai dengan hati-hati. Karena ombak yang sangat besar dan dahsyat. Sangat mempesona sekali keindahan pantai yang masih belum terjamah oleh banyaknya wisatawan yang mendatangi tempat ini. Seolah-olah, pantai ini hanya kami sendiri yang punya. Itu dapat dilihat dari tidak adanya pengunjung yang mendatangi tempat ini ketika kami tiba. Jelajah dari ujung pantai sebelah barat ke sebelah timur dengan berjalan kaki bolak-balik, tidak membutuhkan waktu yang sangat lama. Karena tingginya air laut yang bergelora, membuat aktivitas kami terbatas. Karena untuk berenang ke arah laut sangat berbahaya. Para nelayan yang sempat kami temui, sempat memberitahukan kalau ada pelarangan untuk berenang ke arah laut, karena ombak yang sangat besar. Begitu pula aktivitas para nelayan yang tidak bisa pergi melaut mencari ikan, dengan alasan yang sama. Hal itu dapat kami lihat sendiri dengan diparkirkannya beberapa perahu nelayan yang agak jauh di pantai.
Keindahan tempat ini memang sangat bagus. Karena masih sedikitnya pengunjung [atau bahkan belum tahu tentang pantai Ngantep ini??].
Keasriannya membuatnya kami selalu teringat akan keberadaan tempat ini. Sangat menawan dengan ombak besarnya, yang sayangnya tidak boleh bermain dalam hempasan ombaknya yang besar.
Usai menikmati dan menjelajah pantai Ngantep, kami segera istirahat sejenak, karena teriknya mentari membuat kami kehausan dan sedikit kelaparan. Dengan perbekalan seadanya, kami segera bersantap bersama di bawah rindangnya tebing dan pepohonan yang menghalangi sinar matahari siang itu.

Tak lama kemudian, kami segera melanjutkan perjalanaan kami menuju ke pantai Kondang Merak, melalu jalanan bebatuan yang sangat sulit dilewati itu. Sehubungan dengan semangat "mbolang" dan jelajah alam, kondisi jalanan rusak pun kami lewati. Dengan berhati-hati, kami melintasi bebatuan yang besar-besar yang tertanam di badan jalan nan lancip tersebut. Sungguh menyulitkan untuk dilewati.
Dibutuhkan waktu sekitar setengah jam perjalanan makadam dari pantai Ngantep ke pantai Kondang Merak. Sebenarnya akses jalur kedua pantai ini tidak begitu jauh. Kira-kira sekitar 6 km. Namun kondisi jalan yang rusaklah yang membuat waktu perjalanan menjadi lama. Jalanan menuju pantai Kondang merak menjadi agak lama. Hampir sama kondisi jalanannya dengan kondisi jalan yang menuju pantai Ngantep. Bebatuan berwarna kekuningan, mirip belerang, dengan semak belukar di kanan-kiri jalan. Dan agak jauh dari tepi jalan, nampak rerimbunan pepohonan yang seolah menyambut kami ketika melintasi jalan tersebut. Pohon-pohon berukuran tinggi dan aneka tetumbuhan yang bergelayut di pohon tinggi menampakkan suasana menyeramkan, mirip monster raksasa yang sedang berdiri mematung memandangi kami. Awan mendung sempat menemani rombongan kami ketika melaju ke arah pantai Kondang Merak. Membuat kami merasa, harus cepat-cepat untuk tiba di sana.
Benar saja, ketika kami tiba, suara deburan ombak sudah terdengar. Kami lewati portal dari kayu yang di potong [tanpa membayar retribusi tiket masuk,karena tidak ada tempat untuk retribusi tiket masuknya], dan menuju ke arah pantai.
Wow....sinar mentari sore hari dan hempasan ombak kecil dari pantai Kondang Merak menyapa kami. Sangat indah terasa dan sungguh mengagumkan suasana saat itu.
Apalagi saat itu sedang pasang surut air laut. Jadi, para pengunjung bisa bermain di bagian tepi pantai yang dangkal airnya. Maka tak jarang dari pengunjung [sangat sangat sedikit sekali, bahkan bisa dihitung dengan jari], mulai bermain-air di perairan dangkal pantai Kondang Merak. Dengan ditemani deburan ombak besar di kejauhan, tak menyurutkan nyali kami untuk menjelajah keindahan pantai Kondang Merak kali ini.
Bebatuan karang yang besar-besar menambah semarak keasrian pantai ini. [2 foto terakhir adalah suasana dan pemandangan di pantai Kondang Merak. Sedang foto terakhir adalah kami semua, anggota forum aremaisme.net dan beberapa kawan yang mengikuti kegiatan ini tatkala berfoto di pantai Ngantep]. Nampak ada beberapa pemancing ikan sedang melakukan kegiatannya di jarak yang lumayan jauh dari tepi pantai. Meski sore itu cuaca sedikit mendung, mereka tetap bersemangat memancing. Padahal kami semua tidak berani bermain-main sampai jauh dari tepi pantai. Mungkin mereka sudah terbiasa...:)
Sempat pula kami temukan beberapa hewan laut kecil-kecil di bawah kami. Misalnya ikan-ikan kecil, bulu babi, sampai ular laut! Yup ular laut kecil, sempat kami temukan berwarna hitam-putih. Untung saja segera saya melihatnya, dan bergegas menjauh.
Sinar mentari yang mulai meredup membuat kami semua bergegas untuk segera kembali ke pantai. Mempersiapkan sejenak, untuk pulang lagi ke rumah masing-masing. Karena para pengunjung yang hadir di sini pun sudah mulai berkurang, tingggal kami bersepuluh saja yang masih tersisa.
Dengan sisa-sisa tenaga dan semangat yang kami miliki, jalanan yang rusak kami lewati lagi. Tanpa ragu, kami lewati pelan-pelan sampai ketemu perempatan jalan utama yang membawa kami ke jalur menuju Kota Malang.
Pengalaman 2 pantai dalam 1 hari ini pasti tak 'kan membuat kami lupa akan semangat kebersamaan yang terjadi di antara kami...
Semoga di lain kesempatan, kami bisa bersama-sama lagi menjelajah tempat yang eksotik lagi di kawasan Malang Raya...

30 June 2010

Keindahan Air Terjun Watu Ondo dalam Belantara Rimba

Catatan perjalanan Air Terjun Watu Ondo [Batu & Pacet], Sabtu, 26 Juni 2010

Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB dari kota Malang, Jawa Timur. Cuaca saat itu tengah dilanda terik mentari yang sangat menyengat kulit. Berbekal kemauan dan keinginan, perjalanan ke arah wilayah Kota Batu segera dilaksanakan. Macetnya jalan raya yang saya lintasi sangat menyita perhatian, apalagi debu-debu yang beterbangan serta asap knalpot kendaraan yang seolah-olah tiada henti menemani saya yang mengendari sepeda motor. Usai melewati berbagai kemacetan yang terjadi, sekitar 30 menit kemudian terasa hawa segar yang mulai terasa dingin sudah mulai menyapa.
Juga pemandangan segar yang nampak di kiri-kanan saya juga mulai memanjakan pandangan akan kepenatan atas rutinitas yang terjadi di aktivitas sehari-hari, terasa mulai berkurang. Perjalanan yang saya tuju masih jauh, yakni Air Terjun Watu Ondo [=> Watu = Batu; Ondo = Tangga. Watu Ondo = Tangga Batu] kurang sekitar setengah jam lagi perjalanan.
Jalanan beraspal mulai beranjak sepi. Artinya saya telah memasuki wilayah luar kota yang mulai jarang terdapat tempat keramaian.
Dinginnya hawa di daerah pedesaan segera menyapa saya ketika sedang melintasi areal persawahan yang kebetulan berada di samping jalan beraspal ini. Aneka serangga dan burung mulai beterbangan dengan berbagai arah dan tujuan. Nun jauh di sana, nampak pemandangan perbukitan yang nampak memberikan nuansa kesejukan alam rimba yang bersahabat.
Perjalanan pun saya dilanjutkan. Menembus jalanan yang berkelak-kelok yang sangat menuntut adrenalin yang kuat, begitu menantang semangat untuk menaklukannya. Sangat indah dan mengasyikkan ketika melakukan manuver belok kiri, belok kanan, menanjak curam, berpapasan dengan dengan kendaraan lain yang berlawanan arah dengan lebar jalan yang relatif sempit ini. Jika tidak berhati-hati bisa terpeleset, karena adanya tanah yang berada di jalanan.
Medan yang berbelok-belok tentunya sangat menyiksa bagi para pengendara yang tidak menyukai medan seperti ini, namun bagi para pengendara yang merasa senang, medan seperti ini justru sangat menyenangkan.
Tak lama kemudian, saya memasuki wilayah perkampungan yang ramai akan rumah-rumah penduduk. Saya melewati jalanan utama perkampungan ini untuk menuju tujuan saya, yakni Air Terjun Watu Ondo. Kemudian saya dihadapkan lagi pada bentangan areal perkebunan yang melintang di kiri-kanan saya. Sempat pula cuaca di situ berubah menjadi sangat mendung. Cahaya sang mentari seakan enggan menampakkan seluruh sinarnya. Saya sempat mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan, karena cuaca mendung dan hawa dingin yang mulai menusuk badan. Niatan untuk membatalkan menjadi urung terlaksana, karena saya pikir, jarak tempuh tinggal sedikit. Kemudian saya lanjutkan petualangan, dan dihadapkan pada jalanan menurun curam, dan diberi "bonus lagi" berbelok-belok, menjadi jalur saya selanjutnya untuk menuju tempat wisata pemandian air panas Cangar, yang tengah ramai akan para pengunjung. Itu dapat dilihat dari banyaknya berbagai kendaraan roda dua dan empat yang telah parkir di area parkir lokasi wisata tersebut. Namun saya terus melanjutkan perjalanan saya melewati tempat wisata tersebut. Jalan mulai sepi, tak ada kendaraan pun yang tampak, apalagi orang yang sedang berjalan. Benar-benar sepi, seakan berada di wilayah bumi yang lain. Yang terlihat hanyalah aneka pepohonan dan tanaman yang rimbun menyambut saya di pinggir jalan.
Tak lama kemudian nampak jalanan menurun curam dan berbelok tajam, langsung dihadapkan pada 2 jembatan penghubunng yang merupakan batas wilayah Malang dan Pacet [Mojokerto]. Sangat indah suasana di sana. Apalagi di sana kebetulan ada beberapa orang berhenti sejenak untuk menikmati suasana dan mengambil gambar untuk diabadikan dalam bentuk foto. Saya lanjutkan lagi ke jalur utama tersebut sampai menemui jalanan menurun curam lagi, sampai saya menemukan papan petunjuk tentang keberadaan Air Terjun Watu Ondo.
Benar, hanya beberapa langkah saja ada beberapa bangunan dan beberapa sepeda motor parkir di areal wisata ini.
Rp 5000,00 adalah biaya masuk yang harus saya bayarkan kepada petugas yang memakai seragam ala pecinta alam untuk fasilitas memasuki wilayah wisata ini, juga biaya untuk parkir kendaraan plus asuransi jiwa [keseluruhannya terdiri dari 2 tiket yang saya dapat]. Baru saya ketahui, bahwa tempat wisata ini masih satu kawasan dengan Taman Hutan Raya R. Soerjo, yang juga terdapat di dalamnya adalah tempat wisata pemandian air panas Cangar, yang tak jauh dari lokasi air terjun ini.
Jalanan bebatuan yang ditata rapi membuat mata memandang sangat merasa rileks, apalagi suasana hijaunya aneka tanaman yang berada di lingkungan tersebut.
Apalagi, ketika saya melewati selokan/sungai yang relatif kecil [sekitar 1,5 meter] nampak air yang sangat jernih dan dingin, sempat saya abadikan di salah satu gambar yang saya sertakan ini. Gemericik air diantara lebatnya dedaunan yang nampak segar...
Perjalanan pun ditempuh dengan berjalan kaki melewati tangga batu yang telah disusun sedemikian rupa sehingga lebih mempermudah untuk dilewati. Meski lebih mudah untuk dilewati, namun kecuraman dari tangga batu ini membuat kaki mulai pegal-pegal. Namun hal ini setimpal dengan pemandangan dan suasana yang sangat bagus dan sepi. Hanya diwarnai suara air terjun, beragam serangga yang beterbangan, serta aneka tetumbuhan.
Perlahan-lahan saya lewati tangga batu ini yang menjorok curam dan berbelok-belok.
Perbukitan yang nampak tinggi membentang di hadapan saya ketika melihat di seberang ada air terjun yang airnya meluncur deras ke bawah. Setelah perlahan-lahan saya melewati anak-anak tangga batu tersebut, baru saya menyadari bahwa nama air terjun ini dibuat berdasarkan jalanan yang dibuat untuk menuju air terjun ini dibuat dari batu-batu yang disusun sedemikian rupa menyerupai anak tangga agar mudah dilewati para pengunjung.
Sambil melihat-lihat suasana, sempat pula saya abadikan tumbuhan lumut yang tumbuh subur disebelah selokan yang sengaja dibuat untuk membuat aliran air yang [kemungkinan] berasal dari sumber. Sempat saya pegang air itu, ternyata dingin. Beda dengan air yang berada di areal wisata pemandian air panas Cangar, yang terasa panas. Padahal jarak antara Cangar dan Air Terjun Watu Ondo ini relatif dekat. Itu yang menjadi pemikiran saya, yang berarti diantara keduanya terdapat sumber air yang berbeda.
Tak berapa lama kemudian saya lihat berbagai tumbuhan liar yang hidup subur di sekitar jalanan setapak yang relatif mudah dilewati ini. Aneka semak belukar yang berdaun hijau yang mempunyai bunga berwarna putih, semakin menyemarakkan suasana alam yang menyegarkan.Jarak yang saya tempuh dari areal parkir sampai dengan tempat air terjun ini tidak begitu jauh, perkiraan saya sekitar 200 meter-an.
Pemandangan berikutnya adalah ada 2 air terjun yang ada di hadapan saya. Perkiraan saya, air terjun yang utama ini tingginya 100 meter. Kemudian yang kedua, sebenarnya bukan berupa air terjun, melainkan air yang mengalirkeb bawah menuju keluar yang nampak dari dalam tanah. Diantara air terjun utama dan aliran air yang berada di sampingya terdapat semacam tumbuhan lumut yang tumbuh subur, yang mirip dengan backround ala karpet, yang terbuat secara alami. Perpaduan yang menawan diantara pepohonan yang tumbuh nun jauh di atas tebing yang terjal dan awan yang agak mendung. Yang berikutnya adalah yang berada di samping kanan tempat saya berdiri. Air terjun yang tidak begitu besar dibanding yang utama, namun sangat deras aliran airnya. Sangat bagus perpaduan ketiga air yang "jatuh" itu membentuk 1 aliran sungai di bawahnya.
Di bawah sana nampak batu besar yang menjadi titik jatuhnya air terjun yang utama, sehingga nampak air terjun dari atas seolah nampak muncrat ke mana-mana. Air yang dingin dan udara yang dingin serta pemandangan 3 aliran air yang turun bersamaan di lokasi itu membuat pikiran menjadi rileks dan tenang. Sejenak dapat melupakan beban pikiran dari aktivitas sehari-hari.
Sayangnya, di areal tempat wisata ini tidak dijumpai penjual
makanan/minuman. Jadi, diharapkan kalau Anda datang ke tempat ini hendaknya membawa perbekalan sendiri. Juga jangan lupa agar sampahnya dibawa untuk dibuang di tempat sampah yang berada di areal parkir kendaraan. Karena sayang sekali, keindahan alami tempat ini jika ada tumpukan sampah yang berserakan dimana-mana.
Sungguh tidak bisa dikatakan, keindahan pemandangan air terjun ini. Luar biasa. Ternyata, di tempat ini tidak kalah jauh dengan air terjun lainnya yang pernah saya coba datangi sebelumnya. Seperti halnya dengan Coban Rais dan Coban Talun [masuk wilayah Batu], Coban Pelangi dan Coban Jahe [masuk wilayah Tumpang, Kabupaten Malang], yang kesemuanya masih di wilayah Malang Raya. Sudut-sudut keindahan alami dari air terjun ini [yang ternyata tidak banyak diketahui banyak orang] membuat keberadaannya sangat menawan.





Add ImageFoto-foto : Dokumentasi pribadi

23 June 2010

Foto-foto Aremania di Stadion Kanjuruhan [19052010]

Catatan di Stadion Kanjuruhan Malang, Rabu 19 Mei 2010

Inilah beberapa foto Aremania ketika tim "Singo Edan" Arema Indonesia menggelar laga terakhir di stadion kebanggaan, Stadion Kanjuruhan di Kepanjen, Kabupaten Malang. Dalam laga terakhir ini Arema Indonesia menggelar pertandingan melawan tim Bontang FC itu, tim Singo Edan berhasil menumbangkan tamunya dengan skor 3 - 0.
Foto-foto berikut ini tidak ada hubungannya dengan laga kedua kesebelasan, namun saya khususkan kepada para pendukung tim "Singo Edan" Arema Indonesia, Aremania...
Sambil menonton laga di stadion, saya coba memotret beberapa obyek yang terjadi di dalam stadion.























Foto 1 : Aremania, ketika sebelum laga dimulai

Foto 2 : Bendera-bendera Arema / Aremania yang terpasang di pinggir lapangan






















Foto 3 : Maskot tim Arema Indonesia, "Singo Edan"

Foto 4 : Aksi Aremania, nampak kekompakan dan kreatifitas dalam beraksi

Foto 5 : Aksi Aremania, seluruh seisi stadion kompak dalam beraksi
Foto 6 : Yuli Sumpil, sang dirigen suporter ketika beraksi di dalam stadion

Foto 7 : Aksi Aremania, kekompakan, keterpaduan, kebersamaan, dan kreatifitasnya membawa tim Arema Indonesia meraih gelar Indonesia Super League musim kompetisi 2009/2010

Semoga bisa menginspirasi tim-tim dan para suporter di seluruh jagad raya untuk lebih baik lagi...

Salam Satu Jiwa...Arema Indonesia!!

12 June 2010

Festival Malang Kembali 2010 - "Rekonstruksi Budaya Panji"

Catatan peristiwa 20-23 Mei 2010 "Rekonstruksi Budaya Panji". Demikianlah judul tema gelaran agenda tahunan di kota Malang yakni Festival Malang Kembali, atau ada yang menyebut dengan Malang Tempoe Doeloe. Agenda tahunan yang mengetengahkan festival, pameran, bahkan ajang jual-beli benda-benda atau bahkan aneka jajanan/makanan/minuman digelar di sini. Tepatnya yang berada di lokasi Jalan Besar Ijen Malang. Gelaran acara ini merupakan gelaran yang dipersembahkan pemkot beserta berbagai sponsor yang berguna untuk mengenal/mengenang masa-masa kejayaan wilayah Malang Raya di tempo dulu. Persiapan pertama-tama yang dilakukan sebelum acara ini dimulai adalah pemasangan aneka baliho. Yang menggambarkan kejayaan masa lalu dari kebudayaan yang ada di wilayah ini. Seperti yang tertera dalam foto pertama adalah bentuk masa lalu dari Masjid Agung Jami' Malang. Serta pada foto kedua adalah berupa Candi Jolotundo yang terletak di wilayah Pasuruan. Di jaman dahulu, wilayah Pasuruan masuk dalam wilayah Malang. Berikut adalah 2 foto yang menunjukkan ciri khas Malang, yakni berupa topeng. Aneka topeng khas tradisional ini mempunyai berbagai nama dan karakter unik. Dimana ada salah satu tokoh [yang kini sudah tiada] adalah Mbah Karimun. Beliaulah yang menjadi maestro budaya topeng asli Malang. Tak sekedar dibuat sebagai hiasan, namun penggunaan topeng ini juga dipakai menjadi "aksesoris" tambahan ketika menari topeng. Dengan lakon yang dibawakan, tentunya penggunaan topeng dalam menari harus disesuaikan sesuai jenisnya. Beberapa nama topeng tersebut adalah Maheso Suro, Buto Terong/Sandang, Kalla Markomamang, Kall Tekik Sologonjo, Betara Kala, Klono Suwandono, Wadal Werdi, Patih Kaladinemprang. Sampai sebanyak 60 nama dari daftar topeng secara keseluruhan, yang menjadikannya sebuah "tema" untuk gelaran acara tahunan Festival Malang Kembali tahun ini. Selain menampilkan gambar-gambar baliho bertemakan tentang topeng, masih ada beberapa baliho lagi yang menggambarkan potret kejayaan masa lalu di wilayah Malang Raya. Semisal Candi Jotundo yang terletak di wilayah Pasuruan (sekarang), Masjid Agung Jami' Malang di masa lalu, Peristiwa pembumihangusan bangunan balaikota Malang oleh para pejuang sebelum wilayah Malang didatangi oleh pasukan Belanda, dan gambar Presiden Soekarno ketika menyaksikan peresmian kembali tugu di depan balaikota Malang.
Beberapa baliho itu memang sengaja dipasang sebagai background untuk berfoto-foto. Sedang bbeberapa yang lain digunakan sebagai background dari panggung sendratari yang masih belum dibangun.

Selang beberapa hari kemudian, gelaran Festival Malang Kembali yang bertajuk "Rekonstruksi Budaya Panji" resmi dibuka oleh Walikota Malang Peni Suparto. Ada beragam stand yang menyajikan hal-hal berupa makanan/makanan, mainan tempo doeloe, maupun pernaik-pernik aksesoris dijajakan disini. Bahkan adapula gelaran lomba tari, ludruk, aneka nyanyian, dan lain-lain. Suasana pun bertambah seperti nuansa tempo doeloe. Dikarenakan semua lampu jalan di sepanjang Jalan Besar Ijen dimatikan, dan digantikan dengan aneka lampu dari obor, lampu tempel, petromax, dan lain-lain. Semakin menambah suasana masa lalu di arena ini. Juga banyak sekali para pengunjung yang memakai busana tradisional maupun busana penduduk pribumi masa lalu, ataupun berpakaian tentara masa lalu dan tentara Belanda. Sungguh pemandangan yang menggugah selera untuk memandang suasana kembali ke masa silam dari hingar-bingar masa-masa modern masa kini.
Aneka lampu tempel yang dimodifikasi dengan hiasan warna perak dan emas adalah salah satu dari sekian banyak stand yang menyajikan tawaran aksesoris unik yang dijual di arena ini. Juga ada berbagai aksesoris dari batok kelapa yang diubah menjadi sebuah aksesoris cantik untuk dikenakan maupun untuk menjadi barang hiasan di meja tamu, atau bahkan di dinding. Juga ada kesenian musik gelaran irama keroncong yang menyanyikan lagu-lagu keroncong yang terasa unik didengar. Apalagi dimainkan dalam sebuah stand berbentuk rumah yang diterangi dengan sebuah lampu gantung. Benar-benar terkesan menjadi suasana masa silam di malam itu.
Ramainya pengunjung di gelaran acara Festival Malang Kembali ini dimulai ketika sore menjelang, sampai dengan malam. Hingar-bingar para pedagang, pengamen, dan aneka ragam benda-benda tradisional yang dijajakan menjadi barang yang laris-manis. Tidak hanya kalangan dewasa saja yang datang, namun juga banyak kalangan anak-anak sampai usia remaja pun banyak yang hadir disini. Seakan tak mau melewatkan momen spesial tahunan ini. Yang aslinya merupakan acara untuk menyambut ulang tahun Kota Malang yang jatuh di tanggal 1 April. Namun gegap-gempitanya seakan lebih dari yang diduga. Sehingga menjadi agenda tahunan dari pemkot Malang.
Lain halnya ketika di waktu pagi hingga siang hari. Suasana arena Festival Malang Kembali malah jauh dari suasana hingar-bingar keramaian seperti di waktu malam hari. Beberapa kendaraan masih bisa berseliweran menggunakan jalan raya yang masih terbentang. Sedang di pinggir jalan, nampak banyak stand yang tutup. Hanya beberapa saja yang membuka gerainya bagi para pengunjung. Diantaranya adalah stand makanan, aksesoris, dan lain-lain.
Berikut ini adalah beberapa foto yang menggambarkan beberapa benda-benda yang dipajang di beberapa stand ketika pagi hari.















































































foto-foto : dokumentasi pribadi

02 April 2010

Ketika Sang Presiden Menyaksikan Laga Sepakbola Arema Indonesia vs Persitara

Catatan Selasa, 30 Maret 2010

Bertempat di Stadion Kanjuruhan di wilayah Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, yang merupakan homebase tim Singo Edan, Arema Indonesia, akan menjadi tempat yang bersejarah bagi dunia persepakbolaan tanah air. Mengapa? Karena untuk pertama kali dalam sejarah laga sepakbola, yang menampilkan sang tuan rumah Arema Indonesia akan menghadapi tim Persitara Jakarta Utara akan dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, yang akrab dipanggil SBY.

Peristiwa ini termasuk langka terjadi. Dikarenakan kehadiran pemimpin negara biasanya terjadi pada saat laga final sepakbola ataupun laga timnas sedang bertanding. Sedang pada kali ini, sang presiden dijadwalkan menyaksikan laga sepakbola di saat roda kompetisi masih berlangsung. Kehadiran presiden SBY kali ini adalah dalam rangkaian kegiatan yang dilakukan di kota Malang, yakni peresmian Unit Reaksi Cepat Bencana Alam yang diadakan di Lanud Abdulrahman Saleh, pembukaan Kongres Sepakbola Nasional dan menyaksikan laga Arema Indonesia vs Persitara Jakarta Utara.

***

Sebelum kehadiran presiden SBY di Stadion Kanjuruhan, suasana saat itu ketika jam menunjukkan 12.00 WIB sangat ramai sekali. Hampir separuh kapasitas stadion telah terisi. Padahal matahari sedang terik-teriknya. Namun antusiasme Aremania begitu luar biasanya dalam menyambut kehadiran sang presiden di saat laga berlangsung. Namun tak disangka, satu jam kemudian hujan mulai turun dengan derasnya. Alhasil, semua penonton yang mayoritas Aremania menjadi basah kuyup kehujanan. Dalam dinginnya hujan saat itu, mereka melakukan atraksi yang sangat memikat perhatian mata. Di tribun utara misalnya, mereka membawa semacam kertas berbentuk bulat berwarna putih.Ketika dilambai-lambaikan,nampak bagus pemandangannya dari jauh. Kemudian di tribun timur, atraksi bernyanyi-nyanyi sambil menggerakkan badan dan tangan senantiasa membuat suasana semakin meriah. Di tribun selatan pun tak mau kalah. Dengan menyanyikan lagu-lagu semangat karangan sendiri, mereka juga membuat gerakan-gerakan atraksi yang tak kalah heboh. Alhasil, seluruh Aremania di tiga tribun tersebut melakukan atraksi yang luar biasa. Atraksi yang berlangsung sekitar setengah jam saling bergantian di tribun-tribun tersebut. Tak lama kemudian (berhubung hujan deras juga belum berhenti), atraksi pun berhenti sejenak, sambil menunggu kehadiran sang presiden.

Pukul 14.45 WIB. Di saat hujan deras, nampak ofisial kedua tim sudah datang. Sambutan luar biasa ketika sang pelatih Arema Indonesia, Robert Albert melambaikan tangannya ke seluruh penjuru stadion. Spontan, serempak aremania membuat atraksi kembali seperti tadi. Bernyanyi-nyanyi, bergerak serempak seirama dengan dipimpin seorang dirigen. Yang secara teratur memimpin menyanyikan lagu-lagu semangat maupun gerakan-gerakan atraktif lainnya.

Seperti yang tampak dalam gambar. Aremania tampak kompak dalam beratraksi. Selalu kompak di dalam stadion ketika beratraksi, meski dihadiri sang presiden maupun tidak.

Tidak lama kemudian presiden SBY beserta rombongan hadir di tengah-tengah hiruk-pikuknya suasana stadion. Sambil melambaikan tangan menyambut aremania yang memenuhi seluruh areal stadion yang mulai bergemuruh lagi dengan atraksi di ketiga tribun stadion.

Sebelum laga berlangsung, nampak Presiden SBY menyalami pemain kedua tim, juga sambil berfoto sejenak di tengah turunnya hujan d lapangan. Terlihat tak merasa gerah dengan suasana kehujanan seperti itu, presiden SBY nampak menikmati suasana. Usai bersalaman, presiden SBY kembali ke tribun VVIP yang telah disediakan.

Saat laga dimulai, hujan pun belum mereda. Aremania masih tetap bernyanyi dan bergerak membuat atraksi yang sangat mempesona. Tak mempedulikan hujan yang telah mengguyur, membuat pakaian menjadi basah kuyup ataupun sampai kedinginan. Apalagi ketika tim Arema Indonesia membuat 2 gol ke gawang tim Persitara, stadion Kanjuruhan semakin bergemuruh.

Ketika laga 2 x 45 menit telah usai, Aremania tak beranjak dari tempatnya. Mereka menyanyikan lagu-lagu ucapan terima kasih atas kehadiran presiden SBY. SBY pun menyambutnya dengan lemparan senyum dan lambaian tangan khasnya sebelum beranjak meninggalkan stadion.

Itulah sekelumit peristiwa dalam laga Arema Indonesia vs Persitara Jakarta Utara yang dihadiri sang presiden SBY dan berkesudahan 2 - 0 untuk tim tuan rumah. Kehadiran sang pemimpin negara, yang diharapkan dapat memicu peningkatan prestasi olahraga sepakbola nasional di tingkat dunia...berawal dari kota Malang.

Sumber Gambar : Facebook Samnago

Sisi Lain : Jelang Kedatangan Presiden SBY ke Kota Malang dalam Rangka Pembukaan Kongres Sepakbola Nasional

Catatan Senin, 29 Maret 2010

Dalam rangka peresmian gelaran acara Kongres Sepakbola Nasional yang diselenggarakan di kota Malang pada tanggal 30-31 Maret 2010, suasana jalanan raya mulai dijaga gabungan aparat keamanan sedari pagi. Dari kesatuan polisi, angkatan udara, kodim wilayah Malang Raya dikerahkan untuk mengamankan kedatangan presiden.

Saat itu suasana wilayah Singosari dilanda hujan deras. Sesekali bunyi petir menggelegar, namun itu tak menghalangi antusiasme para pengendara kendaraan bermotor untuk melajukan kendaraan bermotor mereka menuju tujuan. Nampak di sepanjang pinggir jalan beberapa aparat keamanan berjaga-jaga di tiap-tiap gang, tiap tikungan jalan, atau bahkan di putar balik jalan raya. Sehubungan dengan suasana hujan, para aparat keamanan tersebut banyak yang menggunakan jas hujan, ada pula yang berteduh di depan teras rumah-rumah penduduk, bahkan ada juga yang tetap berjaga tanpa menggunakan jas hujan, sehingga nampak seragamnya basah kuyup. 

Dalam kondisi berhujan ria sambil mengenakan jas hujan, saya mengendarai motor saya dalam kecepatan 40 km/jam. Suasana sepanjanga jalan yang saya lalui memang cukup hiruk-pikuk, kalau dilihat suasana pada musim hujan. Tampak beberapa kerumunan massa menunggu iringan kendaraan orang nomor satu di Indonesia tersebut melewati jalan ini. Juga puluhan pelajar SD yang kebetulan sekolahnya berada di pinggir jalan yang dilalui iringan presiden SBY terlihat membawa bendera merah putih kecil. Kira-kira lima belas menit kemudian, saya bersama beberapa kendaraan bermotor lain dihimbau oleh polisi untuk menepi, di luar badan aspal jalan. Karena iringan kendaraan sang presiden mau lewat. Hmm...ternyata begini prosedur sterilisasi jalanan yang akan dilewati iringan pejabat presiden. 

Dalam waktu sekitar setengah jam, di tengah rintik-rintik hujan yang berjatuhan, jalan raya yang semula dua arah, disterilisasi satu jalur. Kemudian jalur yang berlawanan pun dilarang dilintasi semua kendaraan. Tak lama kemudian beberapa iringan kendaraan polisi berupa motor besar melintasi jalanan. Dilanjutkan dengan iringan mobil polisi melintasi jalanan untuk memastikan kondisi jalanan benar-benar telah kondusif.

Sekitar lima menit kemudian tampak iringan mobil yang diawali oleh barisan mobil polisi kemudian diiringi kendaraan yang ditumpangi sang presiden berplat "Indonesia RI 1" melintasi di jalanan. Dalam guyuran hujan, sang presiden membuka jendela mobil sambil melambaikan tangan ke arah para penduduk yang telah lama menunggu kehadirannya. Senyum khasnya mengembang membalas lambaian tangan para penduduk. Di belakang kendaraan tersebut, nampak puluhan kendaraan dinas setingkat menteri dan para pejabat setingkat gubernur dan kepala daerah mengiringi kedatangan sang presiden. Peristiwa itu hanya berjarak sekitar 15 meter dari tempat saya memberhentikan motor saya, di pinggir jalan...

10 November 2009

Berkelana Menuju Indahnya Pantai Sipelot, Tirtoyudo, Malang

Catatan perjalanan Sabtu,07112009

Berawal dari kesepatakan kawan-kawan forum aremaisme.net yang menginginkan berwisata ke wilayah pantai, maka muncullah ide menuju pantai yang tidak banyak diketahui banyak orang, namun masih dalam wilayah Malang Raya. Dari sekian usulan nama2 pantai,akhirnya 1 nama terakhir menjadi tujuan kami berwisata alam, sekaligus menjadi ajang kopi darat bagi kami, anggota forum suporter klub sepakbola Arema, bernama aremaisme.net, yakni pantai Sipelot.

Sabtu pagi, pukul 07.05 WIB berkumpullah para peserta wisata alam ini di Taman Krida Budaya Jawa Timur yang berada di Jl. Soekarno-Hatta Malang. Sebagian merupakan anggota forum, dan sebagian lagi bukan anggota forum. Namun kawan dari anggota forum aremaisme.net. Satu hal yang bagus, peserta kegiatan ini cukup banyak. Meski ada diantara kami yang baru kenal, namun kami cepat akrab dengan mereka. Karena kami punya satu visi sama,berwisata bersama ke Pantai Sipelot, Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

6 pengendara sepeda motor telah bergegas melaju menuju arah Malang selatan. Menjemput beberapa kawan yang tempat tinggalnya dekat dengan jalur perjalanan ini. Jalur dari kota Malang, kemudian menuju arah selatan yakni lewat Bululawang, Dampit, dan Tirtoyudo. Di Bululawang, sempat rehat sejenak,karena ada seorang kawan yang datang menyusul. Usai itu, berangkatlah kami ke arah selatan, menuju lokasi pantai Sipelot di wilayah Tirtoyudo.

Cuaca yang sangat cerah pagi itu sangat membantu kami dalam menelusuri perjalanan menggunakan sepeda motor. Langit berawan nan cerah di iringi suara burung yang saling berkicau menambah suasana alami yang kami temui saat itu. Perjalanan dengan menggunakan 8 motor dan 14 orang peserta kami lalui dengan beriringan dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Terkadang, jika kondisi jalan sepi,kami tak segan-segan menghentak gas sepeda motor kami sampai kecepatan 80 km/jam, bahkan lebih! Dikarenakan, kami semua belum pernah menuju lokasi yang kami tuju kali ini. Dikhawatirkan memang membutuhkan waktu yang teramat lama selama di perjalanan. Ternyata jalan berliku dan berkelak-kelok adalah jalur yang harus kami lalui bersama. Sesekali beriringan dengan mobil box, truk, bus, ataupun jenis kendaraan lain. Setelah sampai di kawasan Tirtoyudo, kami berhenti sejenak di dekat pom bensin. Kami beri kesempatan kepada kawan-kawan yang bensin sepeda motornya yang belum penuh, untuk diisi penuh. Karena pertimbangan di jalan yang kami lalui, belum ada pom bensin.

Usai menempuh perjalanan di kawasan Bululawang dan Dampit yang notabene masih banyak penduduknya, juga masih tergolong ramai, maka setelah sekitar 2 jam perjalanan dari Malang, sampailah kami di wilayah Tirtoyudo. Kami ikuti jalan raya yang ada sampai kami bertemu pertigaan yang ada papan petunjuknya yang cukup besar. Papan petunjuk itu menuliskan bahwa arah Lumajang ke arah kiri, Pantai Sipelot arah kanan. Maka kami segera mengarahkan kendaraan kami semua ke arah kanan, sesuai papan petunjuk tersebut. Perjalanan menantang dimulai. Hijaunya dedaunan dari pohon-pohon dan aneka tumbuhan di kiri-kanan jalan memberi sinyal bahwa jalanan yang kami lalui berikut boleh dikatakan adalah merupakan kawasan hutan. Jalanan yang lebarnya sekitar 8 meter-an menjadi sarana yang mengantarkan kami menuju lokasi pantai. Semula hanya tampak beberapa kendaraan pribadi, sepeda motor saja. Karena memasuki kawasan ini, rimbunnya dedaunan menyapa kami. Tatkala kami berkendara, seringkali kami temui jalanan teduh yang tertutup oleh bayangan banyak pohon berukuran besar. Jadi, kami merasa tidak gerah meskipun sang surya sedang semarak memancarkan cahayanya.

Seperti yang tampak dalam gambar di atas, suasana teduh membantu kami dalam memberi suasana segar di bawah rindangnya pepohonan itu. Jalanan berkelak-kelok menjadi hal yang akrab kami temui setelah itu. Terkadang, di kanan atau kiri merupakan jurang yang dalamnya beberapa meter. Terkadang ada tebing yang tinggi menjulang. Namun dengan adanya pemandangan yang sangat menyehatkan dan menyejukkan mata itu menjadikan tidak terasa capek. Juga ketika kami memasuki di wilayah pemukiman penduduk, jalanan berkelak-kelok, juga naik-turun sangat membuat kami ekstra waspada dan hati-hati. Karena itulah kami berkendara secara beriringan, layaknya sebuah konvoi sepeda motor.:D

Seperti yang tampak dalam foto, ketika kami memasuki sebuah pemukiman, jenis tikungan model inilah yang harus kami lalui. Terkadang pula, ada tikungan yang harus dilalui, namun kondisi jalan sudah rusak atau berlubang. Begitulah perjalanan ini, sangat menguji ketahanan fisik pengendara dan juga ketahanan motor. Usai melewati perkampungan, kami melewati daerah perkebunan, yang juga memberi warna indahnya pemandangan yang kami lalui.

Juga, ketika kami sempat kebingungan ketika kami menghadapi pertigaan. Karena pertigaan tersebut hampir dikatakan tidak tampak dalam peta yang kami bawa. Namun kami sangat beruntung saat itu. Ada seorang ibu dan 2 orang pria yang sedang berada di dekat pertigaan. Salah seorang dari kami menanyakan dimana letak pantai yang kami maksud, beliau menunjukkan arah yang sebelah kiri pertigaan tersebut. Maka, kami segera melanjutkan perjalanan kami lagi. Hampir 1,5 jam kami berkendara seperti saat ini ketika mulai menghitung jam keberangkatan dari pertigaan di Tirtoyudo tadi yang menunjukkan arah Lumajang - Pantai Sipelot.

Tampak sudah, hasil kerja keras kami berkendara. Melaju beriringan di jalanan yang kami tidak tahu, atau bahkan tidak pernah kami lewati sebelumnya, yakni pemandangan yang tampak di samping ini. Secuil pemandangan pantai Sipelot yang berada di balik sebuah bukit. Nampak indah dipandang, karena terletak berhimpitan dengan dataran-dataran tinggi di sekitarnya. Perpaduan warna hijau dan biru di sekitarnya membuat semangat kami membara lagi untuk "menyelesaikan misi" menuju pantai Sipelot yang masuk wilayah Kecamatan Pujiharjo, Tirtoyudo.
Semula, perkiraan dari tempat kami memandang lokasi tersebut menuju pantai yang sebenarnya cukup dekat. Ternyata, kami harus melewati sekitar 3 perbukitan lagi!! Jalanan yang cukup terjal, berkelak-kelok,di pinggirnya berupa jurang ataupun tebing adalah hal yang menjadi biasa bagi kami. Karenanya kami sangat berhati-hati ketika beriringan. Yang menjadi hal menarik lagi, kami juga beruntung bisa melihat sejenis burung elang yang sedang terbang berputar-putar. Jaraknya cukup dekat dengan kami, sejenak kami berhenti untuk memandangnya, karena sangat jarang melihat jenis burung ini terbang di alam liar.
Sekitar 1 jam perjalanan kemudian kami akhirnya berhasil memasuki pemukiman penduduk di wilayah Pujiharjo. Disini kami melihat, pemukiman di sini seperti tak tampak seperti di wilayah yang dekat dengan tepi laut yang lumayan terpencil. Karena adanya jaringan listrik dan ada menara relay operator telepon seluler telah tegap berdiri di salah satu tempat di pemukiman ini. Usai melewati berbagai tikungan, akhirnya kami sampai juga di pantai Sipelot ini. Di salah satu bangunan mirip pendapa, ada semacam prasasti yang tampak seperti di foto ini. Prasasti yang menyebutkan tentang himbauan untuk menjaga lingkungan demi kesejahteraan bersama di kawasan pesisir pantai.
Tak lama setelah kami telusuri jalanan berbatu, kami baru memandang bahwa pantai ini cukup bagus. Deretan rumah penduduk di sebelah kiri kami tampak berjajar. Dengan jarak sekitar 500 meter dari pantai nampak jelas garis air laut yang tampak bergelora ombaknya. Ombak di pantai ini tidak begitu besar. Jika dilihat dari sudut geografisnya, bisa jadi karena posisi pantai ini yang "terhalang" oleh dua buah tanjung yang menjorok ke laut. Sehingga bisa dikatakan, posisi pantai ini adalah berupa teluk. Tampak alami dan masih belum "terjamah" oleh banyak petualang maupun pemerintah daerah.
Hamparan pasir putih tampak merona yang dipadu dengan warna hempasan ombak air laut. Di tepi pantai, nampak warna pasir pantai kehitaman. Itu bisa dimaklumi. Karena letak pantai ini relatif cukup dekat dengan muara tempat abu atau lava Gunung Semeru yang mengalir ke laut. Kemudian dibawa air laut masuk memasuki wilayah perairan pantai Sipelot ini. Karena proses ini memakan cukup waktu yang teramat lama, maka warna pasir di pantai ini menjadi kehitaman. Namun dari sisi keindahan, tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi, karena boleh dikatakan, tidak ada wisatawan yang berkunjung ke sini.
Ketika kami sampai di tempat ini pun, yang ada hanyalah rumah-rumah penduduk yang rata-rata bermata pencaharian sebagai nelayan. Sedang tempat yang berguna sebagai penunjuk untuk wisatawan ketika kami ke sana, tidak ada. Jadi, jangan heran ketika ke sini hanya bertemu para penduduk setempat, tidak ada wisatawan. Hehehe...
Sedang untuk masalah parkir kendaraan pun, (waktu itu kami berangkat rombongan dengan jumlah 16 orang, 8 sepeda motor) kami harus memarkir ke tempat yang kami anggap aman. "Tempat parkir" yang kami tuju pun bukanlah tempat parkir yang nyaman di bawah bangunan ataupun rindangnya pohon, tapi adalah di panasnya pantai Sipelot! Alhasil, jaket-jaket yang kami kenakan menjadi alas untuk menutup jok sepeda motor kami. Tentu saja, kunci ganda tetap kami terapkan pada kendaraan kami. Setelah itu kendaraan kami tinggal, tapi tetap masih terpantau dengan pengawasan kami dari jarak jauh.
Saat itu kami berjalan ke arah timur dari pantai, ke arah bukit karang yang menjulang tinggi. Tidak mudah kami menjangkau daerah itu, karena kami harus menyeberangi perairan (boleh dikatakan adalah berupa muara sungai) yang kedalamannya mencapai pinggang orang dewasa. Beberapa dari kami yang saat itu mengenakan celana panjang, mau tidak mau harus melepas celananya dan berganti dengan celana pendek untuk menyeberang, jika tidak mau berbasah-basah. Tas-tas perbekalan yang kami bawa pun harus kami angkat ke atas untuk menghindari terkena basahnya air.
Muara yang lebarnya kira-kira sepuluh meter itu harus kami lalui dengan jalan pelan-pelan. Karena kami tidak mau terjatuh gara-gara tidak tahu ada bagian dasar muara yang secara tiba-tiba dalam.
Aliran air yang berada di muara tersebut sebenarnya tenang, namun terkadang ombak yang berasal dari arah laut "mampir" di muara juga. Alhasil, kami harus hati-hati sewaktu menyeberang agar tidak terjatuh akibat hempasan ombak.
Usai melewati muara tersebut, kami melewati hamparan pasir pantai itu dengan berjalan kaki, tanpa alas kaki...
Kami nikmati jelajah pantai tanpa alas kaki sampai ke bukit karang yang kami tuju. Tapi lama-kelamaan kaki kami terasa panas, karena teriknya sinar matahari yang siang itu mulai menyengat kulit. Kami berlarian ke arah bukit karang tersebut, setelah itu kami menikmati pemandangan dibalik bayang-bayang bukit karang tersebut. Diantara dari kami asyik berfoto-ria dengan berbagai pose dan angle. Maklum, banyak diantara kami yang sudah lama tidak bepergian ke pantai. Jadi, ketika kami telah sampai di pantai momen seperti ini sepertinya sayang sekali kalau tidak diabadikan dalam bentuk foto.
Ada beberapa kegiatan yang kami lakukan disini secara spontan. Misalnya, bermain sepakbola, mencari kulit kerang/keong,bermain di deburan ombak, berfoto-foto. Deburan ombak yang tidak begitu besar membuat kami bisa menikmati ombak yang melaju ke arah pantai. Sangat nyaman ketika ombak yang tidak begitu besar itu menerpa badan, sampai wajah kami ke arah pantai siang itu. Berfoto di belakang deburan ombak yang membentur karang menjadi salah satu angle yang bagus untuk didokumentasikan.
Meskipun panasnya mentari, tak membuat kami menurunkan semangat kami untuk menikmati suasana dan pemandangan yang ada.Yang jelas, kami benar-benar menikmati suasana dan pemandangan di kawasan pantai Sipelot ini sepuas-puasnya.
Usai melakukan aktifitas di pantai, rasa lelah, lapar, dan dahaga mulai mendera kami. Kami segera melepas lelah di bawah bayang-bayang bukit batu karang. Perbekalan yang kami bawa, segera dibuka semuanya.
Menikmati makanan plus lauk yang digelar di pantai sambil dimakan bareng-bareng membuat suasana semakin semarak. Nasi, dengan lauk telur goreng, tempe, ikan bumbu, sayur yang dibawa dari rumah ternyata sangat bermanfaat. Dalam sekejap, makanan tersebut habis disantap. Maklum, di pemukiman penduduk tidak banyak warung yang buka. Kalaupun ada, letaknya jauh dari posisi kami berada saat itu.
Juga ketika salah satu dari kami membuka perbekalan berupa rujak manis dan krupuknya. Terasa mantap sekali ketika menikmati aneka makanan dan minuman sambil memandang jauh ke lautan lepas pantai bersama kawan-kawan.
Sebab untuk mengumpulkan sobat-sobat ini dalam jumlah yang lumayan banyak ini cukuplah sulit, apalagi dalam waktu yang bebarengan seperti ini.
Usai menelusuri pantai Sipelot, saatnya kami kembali lagi ke tempat kami masing-masing. Usai mengambil kendaraan, kami berjalan pelan di depan pemukiman penduduk untuk berfoto sejenak dengan latar belakang pantai Sipelot. Dengan sejenis tumbuhan menjalar yang tumbuh di pinggir pantai tersebut membuat kaki kami tidak merasa kepanasan. Momen inilah yang menjadi pengingat dan merupakan memori bagus yang akan kami kenang selamanya. Setelah itu, perjalanan panjang sekitar 3 jam akan membawa kami pulang ke tempat kami masing-masing. Sambil merancang penjelajahan lagi di lain waktu. Semoga kami dapat berkelana kembali ke tempat lain dengan situasi berbeda, yang tentunya lebih menarik dan memang layak untuk dikunjungi, untuk menambah rasa erat persahabatan kami, forum aremaisme.net + friends dan menambah wawasan bagi para pembaca dimanapun berada...
[aduystic]