02 April 2010

Ketika Sang Presiden Menyaksikan Laga Sepakbola Arema Indonesia vs Persitara

Catatan Selasa, 30 Maret 2010

Bertempat di Stadion Kanjuruhan di wilayah Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, yang merupakan homebase tim Singo Edan, Arema Indonesia, akan menjadi tempat yang bersejarah bagi dunia persepakbolaan tanah air. Mengapa? Karena untuk pertama kali dalam sejarah laga sepakbola, yang menampilkan sang tuan rumah Arema Indonesia akan menghadapi tim Persitara Jakarta Utara akan dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, yang akrab dipanggil SBY.

Peristiwa ini termasuk langka terjadi. Dikarenakan kehadiran pemimpin negara biasanya terjadi pada saat laga final sepakbola ataupun laga timnas sedang bertanding. Sedang pada kali ini, sang presiden dijadwalkan menyaksikan laga sepakbola di saat roda kompetisi masih berlangsung. Kehadiran presiden SBY kali ini adalah dalam rangkaian kegiatan yang dilakukan di kota Malang, yakni peresmian Unit Reaksi Cepat Bencana Alam yang diadakan di Lanud Abdulrahman Saleh, pembukaan Kongres Sepakbola Nasional dan menyaksikan laga Arema Indonesia vs Persitara Jakarta Utara.

***

Sebelum kehadiran presiden SBY di Stadion Kanjuruhan, suasana saat itu ketika jam menunjukkan 12.00 WIB sangat ramai sekali. Hampir separuh kapasitas stadion telah terisi. Padahal matahari sedang terik-teriknya. Namun antusiasme Aremania begitu luar biasanya dalam menyambut kehadiran sang presiden di saat laga berlangsung. Namun tak disangka, satu jam kemudian hujan mulai turun dengan derasnya. Alhasil, semua penonton yang mayoritas Aremania menjadi basah kuyup kehujanan. Dalam dinginnya hujan saat itu, mereka melakukan atraksi yang sangat memikat perhatian mata. Di tribun utara misalnya, mereka membawa semacam kertas berbentuk bulat berwarna putih.Ketika dilambai-lambaikan,nampak bagus pemandangannya dari jauh. Kemudian di tribun timur, atraksi bernyanyi-nyanyi sambil menggerakkan badan dan tangan senantiasa membuat suasana semakin meriah. Di tribun selatan pun tak mau kalah. Dengan menyanyikan lagu-lagu semangat karangan sendiri, mereka juga membuat gerakan-gerakan atraksi yang tak kalah heboh. Alhasil, seluruh Aremania di tiga tribun tersebut melakukan atraksi yang luar biasa. Atraksi yang berlangsung sekitar setengah jam saling bergantian di tribun-tribun tersebut. Tak lama kemudian (berhubung hujan deras juga belum berhenti), atraksi pun berhenti sejenak, sambil menunggu kehadiran sang presiden.

Pukul 14.45 WIB. Di saat hujan deras, nampak ofisial kedua tim sudah datang. Sambutan luar biasa ketika sang pelatih Arema Indonesia, Robert Albert melambaikan tangannya ke seluruh penjuru stadion. Spontan, serempak aremania membuat atraksi kembali seperti tadi. Bernyanyi-nyanyi, bergerak serempak seirama dengan dipimpin seorang dirigen. Yang secara teratur memimpin menyanyikan lagu-lagu semangat maupun gerakan-gerakan atraktif lainnya.

Seperti yang tampak dalam gambar. Aremania tampak kompak dalam beratraksi. Selalu kompak di dalam stadion ketika beratraksi, meski dihadiri sang presiden maupun tidak.

Tidak lama kemudian presiden SBY beserta rombongan hadir di tengah-tengah hiruk-pikuknya suasana stadion. Sambil melambaikan tangan menyambut aremania yang memenuhi seluruh areal stadion yang mulai bergemuruh lagi dengan atraksi di ketiga tribun stadion.

Sebelum laga berlangsung, nampak Presiden SBY menyalami pemain kedua tim, juga sambil berfoto sejenak di tengah turunnya hujan d lapangan. Terlihat tak merasa gerah dengan suasana kehujanan seperti itu, presiden SBY nampak menikmati suasana. Usai bersalaman, presiden SBY kembali ke tribun VVIP yang telah disediakan.

Saat laga dimulai, hujan pun belum mereda. Aremania masih tetap bernyanyi dan bergerak membuat atraksi yang sangat mempesona. Tak mempedulikan hujan yang telah mengguyur, membuat pakaian menjadi basah kuyup ataupun sampai kedinginan. Apalagi ketika tim Arema Indonesia membuat 2 gol ke gawang tim Persitara, stadion Kanjuruhan semakin bergemuruh.

Ketika laga 2 x 45 menit telah usai, Aremania tak beranjak dari tempatnya. Mereka menyanyikan lagu-lagu ucapan terima kasih atas kehadiran presiden SBY. SBY pun menyambutnya dengan lemparan senyum dan lambaian tangan khasnya sebelum beranjak meninggalkan stadion.

Itulah sekelumit peristiwa dalam laga Arema Indonesia vs Persitara Jakarta Utara yang dihadiri sang presiden SBY dan berkesudahan 2 - 0 untuk tim tuan rumah. Kehadiran sang pemimpin negara, yang diharapkan dapat memicu peningkatan prestasi olahraga sepakbola nasional di tingkat dunia...berawal dari kota Malang.

Sumber Gambar : Facebook Samnago

Sisi Lain : Jelang Kedatangan Presiden SBY ke Kota Malang dalam Rangka Pembukaan Kongres Sepakbola Nasional

Catatan Senin, 29 Maret 2010

Dalam rangka peresmian gelaran acara Kongres Sepakbola Nasional yang diselenggarakan di kota Malang pada tanggal 30-31 Maret 2010, suasana jalanan raya mulai dijaga gabungan aparat keamanan sedari pagi. Dari kesatuan polisi, angkatan udara, kodim wilayah Malang Raya dikerahkan untuk mengamankan kedatangan presiden.

Saat itu suasana wilayah Singosari dilanda hujan deras. Sesekali bunyi petir menggelegar, namun itu tak menghalangi antusiasme para pengendara kendaraan bermotor untuk melajukan kendaraan bermotor mereka menuju tujuan. Nampak di sepanjang pinggir jalan beberapa aparat keamanan berjaga-jaga di tiap-tiap gang, tiap tikungan jalan, atau bahkan di putar balik jalan raya. Sehubungan dengan suasana hujan, para aparat keamanan tersebut banyak yang menggunakan jas hujan, ada pula yang berteduh di depan teras rumah-rumah penduduk, bahkan ada juga yang tetap berjaga tanpa menggunakan jas hujan, sehingga nampak seragamnya basah kuyup. 

Dalam kondisi berhujan ria sambil mengenakan jas hujan, saya mengendarai motor saya dalam kecepatan 40 km/jam. Suasana sepanjanga jalan yang saya lalui memang cukup hiruk-pikuk, kalau dilihat suasana pada musim hujan. Tampak beberapa kerumunan massa menunggu iringan kendaraan orang nomor satu di Indonesia tersebut melewati jalan ini. Juga puluhan pelajar SD yang kebetulan sekolahnya berada di pinggir jalan yang dilalui iringan presiden SBY terlihat membawa bendera merah putih kecil. Kira-kira lima belas menit kemudian, saya bersama beberapa kendaraan bermotor lain dihimbau oleh polisi untuk menepi, di luar badan aspal jalan. Karena iringan kendaraan sang presiden mau lewat. Hmm...ternyata begini prosedur sterilisasi jalanan yang akan dilewati iringan pejabat presiden. 

Dalam waktu sekitar setengah jam, di tengah rintik-rintik hujan yang berjatuhan, jalan raya yang semula dua arah, disterilisasi satu jalur. Kemudian jalur yang berlawanan pun dilarang dilintasi semua kendaraan. Tak lama kemudian beberapa iringan kendaraan polisi berupa motor besar melintasi jalanan. Dilanjutkan dengan iringan mobil polisi melintasi jalanan untuk memastikan kondisi jalanan benar-benar telah kondusif.

Sekitar lima menit kemudian tampak iringan mobil yang diawali oleh barisan mobil polisi kemudian diiringi kendaraan yang ditumpangi sang presiden berplat "Indonesia RI 1" melintasi di jalanan. Dalam guyuran hujan, sang presiden membuka jendela mobil sambil melambaikan tangan ke arah para penduduk yang telah lama menunggu kehadirannya. Senyum khasnya mengembang membalas lambaian tangan para penduduk. Di belakang kendaraan tersebut, nampak puluhan kendaraan dinas setingkat menteri dan para pejabat setingkat gubernur dan kepala daerah mengiringi kedatangan sang presiden. Peristiwa itu hanya berjarak sekitar 15 meter dari tempat saya memberhentikan motor saya, di pinggir jalan...

27 January 2010

Avatar, Ambisi 2 Bangsa

Film ini berlatar belakang tahun 2154, yang menceritakan tentang kisah dari suatu satelit yang mirip dengan keadaan yang terjadi di planet bumi. Di satelit tersebut dikisahkan, ada sebuah peradaban pribumi yang masih tradisional yang mempunyai karakteristik penghuninya mirip dengan manusia. Hanya perbedaannya adalah ukuran tubuhnya yang menjulang tinggi, berwarna biru, dan mempunyai ekor. Namun tingkat peradabannya boleh dikatakan di bawah peradaban manusia yang normal. Bangsa tersebut bernama Na'vi.
Dalam masa itu ada sebuah program yang dinamakan Avatar. Yang merupakan suatu program "pengendalian" pikiran manusia (normal) yang "masuk" ke dalam tubuh penghuni bangsa Na'vi. Saat itu ada salah satu orang (normal) terpilih yang akan memasuki salah satu tubuh bangsa Na'vi. Dia adalah Jake Sully, seorang veteran marinir yang kakinya lumpuh akibat perang sekian tahun yang lalu.
Diceritakan, setelah memasuki ruang laboratorium, alam pikirannya dihubungkan dengan salah satu tubuh bangsa Na'vi (yang bertubuh lebih besar dan tinggi), dia kini bertubuh salah satu bangsa Na'vi, tapi mempunyai jiwa dan pemikiran Jake Sully aselinya. Kegembiraannya berlangsung seru, karena dia sekarang sudah dapat berjalan kaki, bahkan berlari. Kemudian, dia diberi tugas untuk menyelidiki, mempelajari segala kehidupan yang terjadi di bangsa tersebut.
Pada pengiriman pertamanya di kawasan bangsa tersebut, berbagai petualangan pun menghampirinya. Saat ketika menginjak kaki di hutan belantara yang banyak berwarna ungu tersebut dia beserta satu regunya sempat bertemu dengan mahluk hutan lokal yang sangat besar dan ganas. Karena suasana yang genting tersebut (dikejar-kejar mahluk besar beringas itu), akhirnya dia terpisah dengan regunya. Tak lama kemudian hidup dalam kesendirian.
(Pada saat ini, pemandangan hutan banyak berwarna hitam, ungu, putih sangat mendominasi. Jadi keindahan alam sekitar benar-benar luar biasa indahnya. Apalagi, berbagai karakter jenis tumbuhan yang berupa imajinasi pembuatnya sangat bagus sekali...)
Tak lama kemudian dia sempat bertemu dengan salah satu penduduk (perempuan) bangsa Na'vi, yang bernama Neytiri. Yang akhirnya menjadi pemandunya untuk lebih mengenal kehidupan bangsa Na'vi, ketika Jake Sully diterima menjadi Warga bangsa Na'vi. Adapun berbagai pelajaran yang didapatnya antara lain : belajar mengendarai "kuda", ikran (semacam naga terbang yang dapat dikendarai, bahasa Na'vi, dan lain). Berbagai petualangan menarik banyak terjadi di sini (dengan disertai suguhan pemandangan dan sudut gambar yang sangat luar biasa bagusnya...).
Alkisah, suatu ketika "sang penguasa" program Avatar berkeinginan untuk "mengusir" bangsa Na'vi dari Rumah Pohon ("markas besar" dan rumah tinggal bersama bangsa Na'vi, yang berupa pohon raksasa), karena di sekitar daerah tersebut terdapat mineral yang sangat mahal harganya, maka Jake Sully dihadapkan pada situasi yang sulit, yang satu sisi adalah manusia normal, satu sisi lain menjadi warga bangsa pribumi. Dia harus menentukan pilihan.
Ketamakan, ambisi "sang penguasa" (manusia normal) untuk menguasai sumber mineral tersebut menyebabkan perang antara 2 bangsa pecah. Jake Sully (yang bertubuh bangsa pribumi), segera menghimpun kekuatan berbagai suku bangsa untuk melawan ambisi bangsa manusia. "Kemampuan" mengumpulkan banyak pasukan tersebut didapatnya ketika dia berhasil "menguasai/mengendalikan" salah satu naga terbang yang yang sangat besar yang disebut sebagai Toruk Mucto. Sebagai pengendali Toruk Mucto, dia mempunyai kekuasaan untuk mengumpulkan antar suku. Sekaligus berambisi untuk mempertahankan wilayah kekuasaan dan keberadaan bangsa Na'vi dan suku bangsa lain agar tidak terusik oleh bangsa manusia.

Pertempuran yang sangat menarik dan luar biasa terjadi. Peralatan modern, baik darat maupun udara milik bangsa manusia melawan sekumpulan hewan2 darat yang cepat dan kuat, juga ribuan penunggang naga-naga di udara yang dipimpin oleh Jake Sully sang pengendali Toruk Mucto.
Film kolaborasi nyata dan animasi ini sangat memanjakan mata dengan aneka warna dan pernak-pernik kehidupan berupa khayalan yang sangat tak lazim adanya di dunia nyata. Seperti halnya manusia berekor,naga terbang yang dapat ditunggangi,aneka tumbuhan yang dapat mengeluarkan cahaya di malam hari, dan lain sebagainya.
Garis besar skenario film ini menceritakan tentang ambisi bangsa manusia yang ingin menguasai kawasan mineral dan mengusir penduduk pribumi yang bertempat tinggal di sana. Di mana kawasan ini sedang ditempati bangsa Na'vi. Kemudian terjadi peperangan luar biasa. Yang satu ingin menguasai wilayah sumber mineral, yang satu ingin mempertahankan wilayahnya dari gangguan bangsa manusia. Uniknya, bangsa pribumi tersebut dipimpin seorang bertubuh bangsa Na'vi dan berjiwa bangsa manusia...
James Cameron (sutradara film Titanic) telah berhasil membuat alur cerita, kisah, pengambilan gambar, penataan cahaya, karakter tokoh cerita antara manusia dan animasi tampak sempurna. Sayang dilewatkan bagi penyuka film ini....

[sumber gambar : http://fotounik.net/best-cool-movie-poster-2009/]

10 November 2009

Berkelana Menuju Indahnya Pantai Sipelot, Tirtoyudo, Malang

Catatan perjalanan Sabtu,07112009

Berawal dari kesepatakan kawan-kawan forum aremaisme.net yang menginginkan berwisata ke wilayah pantai, maka muncullah ide menuju pantai yang tidak banyak diketahui banyak orang, namun masih dalam wilayah Malang Raya. Dari sekian usulan nama2 pantai,akhirnya 1 nama terakhir menjadi tujuan kami berwisata alam, sekaligus menjadi ajang kopi darat bagi kami, anggota forum suporter klub sepakbola Arema, bernama aremaisme.net, yakni pantai Sipelot.

Sabtu pagi, pukul 07.05 WIB berkumpullah para peserta wisata alam ini di Taman Krida Budaya Jawa Timur yang berada di Jl. Soekarno-Hatta Malang. Sebagian merupakan anggota forum, dan sebagian lagi bukan anggota forum. Namun kawan dari anggota forum aremaisme.net. Satu hal yang bagus, peserta kegiatan ini cukup banyak. Meski ada diantara kami yang baru kenal, namun kami cepat akrab dengan mereka. Karena kami punya satu visi sama,berwisata bersama ke Pantai Sipelot, Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

6 pengendara sepeda motor telah bergegas melaju menuju arah Malang selatan. Menjemput beberapa kawan yang tempat tinggalnya dekat dengan jalur perjalanan ini. Jalur dari kota Malang, kemudian menuju arah selatan yakni lewat Bululawang, Dampit, dan Tirtoyudo. Di Bululawang, sempat rehat sejenak,karena ada seorang kawan yang datang menyusul. Usai itu, berangkatlah kami ke arah selatan, menuju lokasi pantai Sipelot di wilayah Tirtoyudo.

Cuaca yang sangat cerah pagi itu sangat membantu kami dalam menelusuri perjalanan menggunakan sepeda motor. Langit berawan nan cerah di iringi suara burung yang saling berkicau menambah suasana alami yang kami temui saat itu. Perjalanan dengan menggunakan 8 motor dan 14 orang peserta kami lalui dengan beriringan dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Terkadang, jika kondisi jalan sepi,kami tak segan-segan menghentak gas sepeda motor kami sampai kecepatan 80 km/jam, bahkan lebih! Dikarenakan, kami semua belum pernah menuju lokasi yang kami tuju kali ini. Dikhawatirkan memang membutuhkan waktu yang teramat lama selama di perjalanan. Ternyata jalan berliku dan berkelak-kelok adalah jalur yang harus kami lalui bersama. Sesekali beriringan dengan mobil box, truk, bus, ataupun jenis kendaraan lain. Setelah sampai di kawasan Tirtoyudo, kami berhenti sejenak di dekat pom bensin. Kami beri kesempatan kepada kawan-kawan yang bensin sepeda motornya yang belum penuh, untuk diisi penuh. Karena pertimbangan di jalan yang kami lalui, belum ada pom bensin.

Usai menempuh perjalanan di kawasan Bululawang dan Dampit yang notabene masih banyak penduduknya, juga masih tergolong ramai, maka setelah sekitar 2 jam perjalanan dari Malang, sampailah kami di wilayah Tirtoyudo. Kami ikuti jalan raya yang ada sampai kami bertemu pertigaan yang ada papan petunjuknya yang cukup besar. Papan petunjuk itu menuliskan bahwa arah Lumajang ke arah kiri, Pantai Sipelot arah kanan. Maka kami segera mengarahkan kendaraan kami semua ke arah kanan, sesuai papan petunjuk tersebut. Perjalanan menantang dimulai. Hijaunya dedaunan dari pohon-pohon dan aneka tumbuhan di kiri-kanan jalan memberi sinyal bahwa jalanan yang kami lalui berikut boleh dikatakan adalah merupakan kawasan hutan. Jalanan yang lebarnya sekitar 8 meter-an menjadi sarana yang mengantarkan kami menuju lokasi pantai. Semula hanya tampak beberapa kendaraan pribadi, sepeda motor saja. Karena memasuki kawasan ini, rimbunnya dedaunan menyapa kami. Tatkala kami berkendara, seringkali kami temui jalanan teduh yang tertutup oleh bayangan banyak pohon berukuran besar. Jadi, kami merasa tidak gerah meskipun sang surya sedang semarak memancarkan cahayanya.

Seperti yang tampak dalam gambar di atas, suasana teduh membantu kami dalam memberi suasana segar di bawah rindangnya pepohonan itu. Jalanan berkelak-kelok menjadi hal yang akrab kami temui setelah itu. Terkadang, di kanan atau kiri merupakan jurang yang dalamnya beberapa meter. Terkadang ada tebing yang tinggi menjulang. Namun dengan adanya pemandangan yang sangat menyehatkan dan menyejukkan mata itu menjadikan tidak terasa capek. Juga ketika kami memasuki di wilayah pemukiman penduduk, jalanan berkelak-kelok, juga naik-turun sangat membuat kami ekstra waspada dan hati-hati. Karena itulah kami berkendara secara beriringan, layaknya sebuah konvoi sepeda motor.:D

Seperti yang tampak dalam foto, ketika kami memasuki sebuah pemukiman, jenis tikungan model inilah yang harus kami lalui. Terkadang pula, ada tikungan yang harus dilalui, namun kondisi jalan sudah rusak atau berlubang. Begitulah perjalanan ini, sangat menguji ketahanan fisik pengendara dan juga ketahanan motor. Usai melewati perkampungan, kami melewati daerah perkebunan, yang juga memberi warna indahnya pemandangan yang kami lalui.

Juga, ketika kami sempat kebingungan ketika kami menghadapi pertigaan. Karena pertigaan tersebut hampir dikatakan tidak tampak dalam peta yang kami bawa. Namun kami sangat beruntung saat itu. Ada seorang ibu dan 2 orang pria yang sedang berada di dekat pertigaan. Salah seorang dari kami menanyakan dimana letak pantai yang kami maksud, beliau menunjukkan arah yang sebelah kiri pertigaan tersebut. Maka, kami segera melanjutkan perjalanan kami lagi. Hampir 1,5 jam kami berkendara seperti saat ini ketika mulai menghitung jam keberangkatan dari pertigaan di Tirtoyudo tadi yang menunjukkan arah Lumajang - Pantai Sipelot.

Tampak sudah, hasil kerja keras kami berkendara. Melaju beriringan di jalanan yang kami tidak tahu, atau bahkan tidak pernah kami lewati sebelumnya, yakni pemandangan yang tampak di samping ini. Secuil pemandangan pantai Sipelot yang berada di balik sebuah bukit. Nampak indah dipandang, karena terletak berhimpitan dengan dataran-dataran tinggi di sekitarnya. Perpaduan warna hijau dan biru di sekitarnya membuat semangat kami membara lagi untuk "menyelesaikan misi" menuju pantai Sipelot yang masuk wilayah Kecamatan Pujiharjo, Tirtoyudo.
Semula, perkiraan dari tempat kami memandang lokasi tersebut menuju pantai yang sebenarnya cukup dekat. Ternyata, kami harus melewati sekitar 3 perbukitan lagi!! Jalanan yang cukup terjal, berkelak-kelok,di pinggirnya berupa jurang ataupun tebing adalah hal yang menjadi biasa bagi kami. Karenanya kami sangat berhati-hati ketika beriringan. Yang menjadi hal menarik lagi, kami juga beruntung bisa melihat sejenis burung elang yang sedang terbang berputar-putar. Jaraknya cukup dekat dengan kami, sejenak kami berhenti untuk memandangnya, karena sangat jarang melihat jenis burung ini terbang di alam liar.
Sekitar 1 jam perjalanan kemudian kami akhirnya berhasil memasuki pemukiman penduduk di wilayah Pujiharjo. Disini kami melihat, pemukiman di sini seperti tak tampak seperti di wilayah yang dekat dengan tepi laut yang lumayan terpencil. Karena adanya jaringan listrik dan ada menara relay operator telepon seluler telah tegap berdiri di salah satu tempat di pemukiman ini. Usai melewati berbagai tikungan, akhirnya kami sampai juga di pantai Sipelot ini. Di salah satu bangunan mirip pendapa, ada semacam prasasti yang tampak seperti di foto ini. Prasasti yang menyebutkan tentang himbauan untuk menjaga lingkungan demi kesejahteraan bersama di kawasan pesisir pantai.
Tak lama setelah kami telusuri jalanan berbatu, kami baru memandang bahwa pantai ini cukup bagus. Deretan rumah penduduk di sebelah kiri kami tampak berjajar. Dengan jarak sekitar 500 meter dari pantai nampak jelas garis air laut yang tampak bergelora ombaknya. Ombak di pantai ini tidak begitu besar. Jika dilihat dari sudut geografisnya, bisa jadi karena posisi pantai ini yang "terhalang" oleh dua buah tanjung yang menjorok ke laut. Sehingga bisa dikatakan, posisi pantai ini adalah berupa teluk. Tampak alami dan masih belum "terjamah" oleh banyak petualang maupun pemerintah daerah.
Hamparan pasir putih tampak merona yang dipadu dengan warna hempasan ombak air laut. Di tepi pantai, nampak warna pasir pantai kehitaman. Itu bisa dimaklumi. Karena letak pantai ini relatif cukup dekat dengan muara tempat abu atau lava Gunung Semeru yang mengalir ke laut. Kemudian dibawa air laut masuk memasuki wilayah perairan pantai Sipelot ini. Karena proses ini memakan cukup waktu yang teramat lama, maka warna pasir di pantai ini menjadi kehitaman. Namun dari sisi keindahan, tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi, karena boleh dikatakan, tidak ada wisatawan yang berkunjung ke sini.
Ketika kami sampai di tempat ini pun, yang ada hanyalah rumah-rumah penduduk yang rata-rata bermata pencaharian sebagai nelayan. Sedang tempat yang berguna sebagai penunjuk untuk wisatawan ketika kami ke sana, tidak ada. Jadi, jangan heran ketika ke sini hanya bertemu para penduduk setempat, tidak ada wisatawan. Hehehe...
Sedang untuk masalah parkir kendaraan pun, (waktu itu kami berangkat rombongan dengan jumlah 16 orang, 8 sepeda motor) kami harus memarkir ke tempat yang kami anggap aman. "Tempat parkir" yang kami tuju pun bukanlah tempat parkir yang nyaman di bawah bangunan ataupun rindangnya pohon, tapi adalah di panasnya pantai Sipelot! Alhasil, jaket-jaket yang kami kenakan menjadi alas untuk menutup jok sepeda motor kami. Tentu saja, kunci ganda tetap kami terapkan pada kendaraan kami. Setelah itu kendaraan kami tinggal, tapi tetap masih terpantau dengan pengawasan kami dari jarak jauh.
Saat itu kami berjalan ke arah timur dari pantai, ke arah bukit karang yang menjulang tinggi. Tidak mudah kami menjangkau daerah itu, karena kami harus menyeberangi perairan (boleh dikatakan adalah berupa muara sungai) yang kedalamannya mencapai pinggang orang dewasa. Beberapa dari kami yang saat itu mengenakan celana panjang, mau tidak mau harus melepas celananya dan berganti dengan celana pendek untuk menyeberang, jika tidak mau berbasah-basah. Tas-tas perbekalan yang kami bawa pun harus kami angkat ke atas untuk menghindari terkena basahnya air.
Muara yang lebarnya kira-kira sepuluh meter itu harus kami lalui dengan jalan pelan-pelan. Karena kami tidak mau terjatuh gara-gara tidak tahu ada bagian dasar muara yang secara tiba-tiba dalam.
Aliran air yang berada di muara tersebut sebenarnya tenang, namun terkadang ombak yang berasal dari arah laut "mampir" di muara juga. Alhasil, kami harus hati-hati sewaktu menyeberang agar tidak terjatuh akibat hempasan ombak.
Usai melewati muara tersebut, kami melewati hamparan pasir pantai itu dengan berjalan kaki, tanpa alas kaki...
Kami nikmati jelajah pantai tanpa alas kaki sampai ke bukit karang yang kami tuju. Tapi lama-kelamaan kaki kami terasa panas, karena teriknya sinar matahari yang siang itu mulai menyengat kulit. Kami berlarian ke arah bukit karang tersebut, setelah itu kami menikmati pemandangan dibalik bayang-bayang bukit karang tersebut. Diantara dari kami asyik berfoto-ria dengan berbagai pose dan angle. Maklum, banyak diantara kami yang sudah lama tidak bepergian ke pantai. Jadi, ketika kami telah sampai di pantai momen seperti ini sepertinya sayang sekali kalau tidak diabadikan dalam bentuk foto.
Ada beberapa kegiatan yang kami lakukan disini secara spontan. Misalnya, bermain sepakbola, mencari kulit kerang/keong,bermain di deburan ombak, berfoto-foto. Deburan ombak yang tidak begitu besar membuat kami bisa menikmati ombak yang melaju ke arah pantai. Sangat nyaman ketika ombak yang tidak begitu besar itu menerpa badan, sampai wajah kami ke arah pantai siang itu. Berfoto di belakang deburan ombak yang membentur karang menjadi salah satu angle yang bagus untuk didokumentasikan.
Meskipun panasnya mentari, tak membuat kami menurunkan semangat kami untuk menikmati suasana dan pemandangan yang ada.Yang jelas, kami benar-benar menikmati suasana dan pemandangan di kawasan pantai Sipelot ini sepuas-puasnya.
Usai melakukan aktifitas di pantai, rasa lelah, lapar, dan dahaga mulai mendera kami. Kami segera melepas lelah di bawah bayang-bayang bukit batu karang. Perbekalan yang kami bawa, segera dibuka semuanya.
Menikmati makanan plus lauk yang digelar di pantai sambil dimakan bareng-bareng membuat suasana semakin semarak. Nasi, dengan lauk telur goreng, tempe, ikan bumbu, sayur yang dibawa dari rumah ternyata sangat bermanfaat. Dalam sekejap, makanan tersebut habis disantap. Maklum, di pemukiman penduduk tidak banyak warung yang buka. Kalaupun ada, letaknya jauh dari posisi kami berada saat itu.
Juga ketika salah satu dari kami membuka perbekalan berupa rujak manis dan krupuknya. Terasa mantap sekali ketika menikmati aneka makanan dan minuman sambil memandang jauh ke lautan lepas pantai bersama kawan-kawan.
Sebab untuk mengumpulkan sobat-sobat ini dalam jumlah yang lumayan banyak ini cukuplah sulit, apalagi dalam waktu yang bebarengan seperti ini.
Usai menelusuri pantai Sipelot, saatnya kami kembali lagi ke tempat kami masing-masing. Usai mengambil kendaraan, kami berjalan pelan di depan pemukiman penduduk untuk berfoto sejenak dengan latar belakang pantai Sipelot. Dengan sejenis tumbuhan menjalar yang tumbuh di pinggir pantai tersebut membuat kaki kami tidak merasa kepanasan. Momen inilah yang menjadi pengingat dan merupakan memori bagus yang akan kami kenang selamanya. Setelah itu, perjalanan panjang sekitar 3 jam akan membawa kami pulang ke tempat kami masing-masing. Sambil merancang penjelajahan lagi di lain waktu. Semoga kami dapat berkelana kembali ke tempat lain dengan situasi berbeda, yang tentunya lebih menarik dan memang layak untuk dikunjungi, untuk menambah rasa erat persahabatan kami, forum aremaisme.net + friends dan menambah wawasan bagi para pembaca dimanapun berada...
[aduystic]


29 October 2009

Menelusuri Belantara Coban Rais (Batu-Malang) dan Menikmati Keindahan Atas Kota di Paralayang (Malang)

Catatan Perjalanan, 17102009

Coban Rais itulah tujuan kami melakukan penjelajahan wisata alam yang cukup tenar di wilayah Malang Raya. Lokasi yang berada kawasan Dusun Dresel, Desa Oro-oro Ombo,Batu. Lokasi air terjun yang terdapat di sela-sela belantara hutan "gunung" Panderman.

Berangkat dari kota Malang sekitar pukul 09.00 WIB. Semula menggunakan jalur jalan raya antar kota Malang-Batu. Namun seiring naluri petualang, kami melalui jalur yang "tidak umum". Yakni melalui jalan desa yang juga nantinya akan melewati lokasi wisata yang kami tuju, yakni Coban Rais. Jalanan yang tidak begitu sempit yg cukup dilewati 2 kendaraan jenis minibus yang berjalan sejajar dan beraspal. Kami ikuti dengan kecepatan sedang. O ya...kami yang berangkat berpetualang kali ini 5 orang,dengan mengendarai 3 motor. Dari jalanan yang kami lalui, semula nampak rumah-rumah penduduk yang berjajar beriringan. Jalanan beraspal dengan lebar sekitar 10 meteran mengantar kami menuju daerah yang semakin menanjak yang juga masih jauh dari pemukiman penduduk sekitar.

Tak lama kemudian kami telah melalui daerah yang mulai tak didiami penduduk lagi. Nampaklah di pinggir jalan, dengan berpagar tembok yang tinggi, dan tidak terawat, beberapa bangunan yang nampaknya seperti taman wisata. Dari bentuk-bentuk yang ada. Beragam bentuk yang ada di sana, bentuk-bentuk peninggalan jaman kerajaan masa lalu terdapat di beberapa tempat. Ada arca, bangunan tinggi mirip mercusuar, jembatan kecil dari beton, dinosaurus, dan sebagainya. Nampaknya, bangunan yang mirip taman bermain ini adalah (mungkin) sebuah proyek yang digunakan untuk tempat berwisata.Mungkin karena kekurangan dana, atau sebab apa, pembangunan areal taman ini tidak dapat dilaksanakan lagi. Akhirnya tak terurus seperti dalam beberapa foto yang saya tampilkan ini.

Usai menikmati bagusnya areal taman ini,kami lanjutkan perjalanan yang semakin menanjak dan berliku menuju Coban Rais. Setelah mengikuti jalanan beraspal dengan pemandangan pepohonan di kiri kanan kami ini, akhirnya kami sampai juga di pelataran parkir wisata alami Coban Rais yang berada di desa Oro-oro Ombo wilayah Kecamatan Batu. Tarif yang cukup murah bagi kami untuk masuk ke tempat wisata ini. Sumbangan untuk desa sebesar Rp 250,00 dan tiket masuk sebesar Rp 3.100,00 dan parkir sepeda motor sebesar Rp 500,00. Jangan bandingkan tempat parkir sepeda motor dan mobil berupa halaman berlapis semen yang rata. Di sini berupa tanah lapang yang masih ditumbuhi rerumputan, bahkan permukaan yang tidak rata adalah bukan hal yang asing disini.

Ketika kami tiba, di sekitar kami telah banyak wisatawan yang telah hadir disini. Kebanyakan kaum muda yang seusia sekolah tingkat lanjutan menengah atas. Dari kaos panjang yang seragam dari yang mereka kenakan, dapat disimpulkan bahwa mereka sedang ada tugas dari sekolah. Paling tidak adalah kegiatan penjelajahan untuk ekstra kurikuler Pramuka. Itulah perkiraan kami.
Tapi kami tak ambil pusing, yang penting kami dapat melakukan kegiatan refreshing kami, hanya sekedar melempar rasa jenuh dari kegiatan sehari-hari.

Adalah jalan bertanah dengan diselingi rerumputan di kanan atau kiri jalan yang menyambut kami ketika berjalan kaki. Areal parkir yang cukup luas "dihiasi" dengan para pedagang kaki lima yang sedang berjualan di sekitarnya. Mulai cilok, bakso, es rujak manis ada di sana.
Karena tak ingin kesiangan, maka kami berangkat menuju lokasi yang sudah ada petunjuknya, yakni jalan makadam (jalan tanah/bebatuan) yang dikhususkan untuk pejalan kaki. Suasana cukup ramai ketika kami berjalan beriringan. Karena sesekali bebarengan dengan dengan serombongan anak-anak sekolah yang sedang melakukan kegiatan sekolah versi alam.

Semula, perjalanan sangat menyenangkan. Jalan tanah mendatar sangat mudah untuk dilalui, ditambah aneka tetumbuhan yang beragam jenis banyak tumbuh di sekitarnya. Sehingga tampak warna khas hijau dedaunan menjadi pemandangan yang lazim di tempat ini. Nampak pula di kejauhan,beberapa bukit yang cukup tinggi menjulang dengan hiasan rindang hijau aneka tumbuhan. Sekian lama kami berjalan menempuh jalanan tanah yang berbatu, nampak ada semacam sungai kecil di sebelah kami. Sungai yang nampaknya sengaja dibuat untuk mempermudah akan kebutuhan akan air segar. Hal itu diperkuat dengan adanya beberapa pipa-pipa besi yang sempat menyembul keluar di bawah tanah. Namun tak lama kemudian, jalanan tanah yang kami ikuti itu berubah "bentuk". Yang semula mudah dilewati, kini malah berubah menjadi jalan setapak sempit yang agak susah dilewati dengan kondisi sedikit menanjak.

Rimbunnya pepohonan tak menghalangi kami ketika berjalan menyusuri sedikit demi sedikit alur jalanan menuju Coban Rais. Teriknya matahari tak sedikitpun membuat kami merasa putus asa untuk menyelesaikan agenda travelling kami. Kami tetap berjalan dengan perlahan-perlahan sambil menikmati kicauan burung dan aneka serangga yang banyak berseliweran di sana-sini.
Ketika tiba di balik sebuah gundukan tanah yang tinggi, kami
sedikit terncengang kondisi yang kami lihat!! Jalan setapak dengan tingkat kemiringan sekitar 45 derajat terpampang di hadapan kami. Sejenak kami terdiam untuk menghela napas mengumpulkan tenaga kami untuk melanjutkan petualangan menembus belantara wisata alam Coban Rais. Kami menembus berbagai jalanan yang semakin lama semakin menanjak, seakan tak habis-habisnya jalan tanjakan bertanah dan berbatu ini. Untungnya jalur jalanan menuju lokasi air terjun banyak yang "ditutupi" dengan rindangnya pepohonan di kiri-kanan jalan yang harus kami lalui. Jadi kami tidak begitu merasa kepanasan, bahkan merasa cukup terbantu dengan kondisi yang sangat rindang dan sejuk ini. Perjalanan dilanjutkan, usai melewati berbagai jalanan "ekstrim" tersebut, kami juga melewati dam (bendungan kecil) yang nampaknya masih dalam tahap renovasi. Maka kami sempatkan istirahat dulu disitu untuk menghimpun sisa-sisa tenaga yang kami punya. Kebetulan tempat yang kami lewati adalah salah satu tempat yang cukup lapang dan rindang di bawah pepohonan. Boleh dikatakan, kami melewati beberapa bukit terlebih dahulu sebagai "uji nyali" kami untuk menempuh ke lokasi air terjun. Jalur setapak di selebar satu meter yang penuh bebatuan, dimana sebelah kanan adalah tebing batu dan sebelah kirinya jurang, adalah sebagian pemandangan yang kami nikmati. Perjalanan ini masih cukup jauh dan begitu melelahkan...namun tak menyurutkan kami untuk terus menyelesaikan perjalanan menuju lokasi akhir.

Perjalanan kami lanjutkan lagi. Kali ini suasana rindang pepohonan dan udara yang mulai terasa dingin sangat menyejukkan kami. Jalanan mendaki masih tampak belum selesai, dan masih berlanjut. Kemudian diantara rimbun pepohonan dan semak-belukar, kami melihat dan mendengar gemericik air yang mengalir. Waahh....sudah dekat rupanya dengan air terjun Coban Rais. Jalan satu-satunya meneruskan perjalanan adalah dengan melewati sungati kecil tersebut yang terasa sangat dingin. Namun cukup menyegarkan suasana selama berjalan lebih sering diterpa terik sinar matahari. Segar, sejuk dan jernih....itulah ungkapan yang bisa kami ungkapkan saat itu.
Bebatuan yang nampak di dasar sungai nampak jelas di beningnya air sungai kecil. Hampir ga beda dengan air es yang ada di dalam kulkas.....brr.......
Sungai yang pertama tidak begitu dalam, kedalamannya sekitar di bawah lutut. Begitu pula sungai kedua yang harus kami lalui, kurang lebih sama tingginya. Arusnya pun tergolong pelan, karena alur air sungainya melewati pepohonan dan semak-semak yang ada di sekitarnya.
Mungkin karena dinginnya air, tak nampak ada ikan atau sejenis kecebong yang yang sedang berenang di sela-sela tepian sungai. Entahlah...yang jelas para kecebong mungkin sedang berwisata ke tempat lain...hahahaha...
Usai melewati sungai kecil ini kami lanjutkan perjalanan lagi dengan berjalan kaki. Jalanan setapak dengan khas ditumbuhi semak-semak menjadi pemandangan yang akrab bagi kami. Begitu pula jalanan setapak yang menanjak, meskipun tak se-ekstrim di tengah-tengah perjalanan tadi.
Tak lama kemudian, kami lihat di salah satu sudut hutan, terdapat gemuruh air terjun di kejauhan. Itulah Coban Rais...
Di sela-sela belantara rimba inilah air terjun ini tujuan kami. Melelahkan, cukup menguras energi dan kekuatan fisik kami. Namun, begitu melihat tujuan kami, rasa capek terasa sirna seketika. Legaaa......
Berbagai tikungan, tanjakan, telah kami lalui, dikombinasi dengan suara gemuruh air terjun membuat semangat kembali membara. Yup...betul...kami telah sampai di sebuah air terjun yang cukup tinggi. Kira-kira 100 meter (mungkin lhoo...karena nggak bawa penggaris...hihiihi....), cukup deras air yang mengalir dari atas menuju ke bawah. Air yang meluncur ke bawah melalui bebatuan bukit ini menambah semarak kesegaran lingkungan. Karena cipratan embun dari air terjun ini menyeruak ke sekitarnya. Nampak bebatuan di bawah terpaan air terjun nampak mengkilap dan berwarna legam.
Air yang jatuh kebawah ini tidak seluruhnya langsung jatuh ke dasar, ada sebagian lagi yang menghempas dataran kecil di tengah-tengah air terjun, sebagian lagi baru jatuh ke bawah...ke dasar air terjun. Tepat di bawah air terjun, tepatnya sekitar 5 meter dari kolam tempat dasar air terjun terdapat seonggok pohon besar tumbang yang melintang. Kolam kecil di bawah air terjun tampak "dibendung" dengan tumpukan kayu-kayu yang sengaja dibuat sedimikian rupa agar air tidak meluas.
Nampak lokasi air terjun Coban Rais ini terletak sangat tersembunyi di balik perbukitan dan rindangnya belantara rimba. Memang nampak anggun sekali air terjun ini...diantara hijaunya dedaunan...memancarkan percikan embun kemana-mana. Meskipun cuaca sedang terik, tak terasa begitu panas, karena embun yang beterbangan cukup membuat suasana menjadi sejuk dan segar.
Dilihat dari berbagai sudut pun, nampak sungguh mengagumkan sekali.
Begitu pun para pengunjung yang kebanyakan para pelajar SMA nampak sangat menikmati kegiatan penjelajahan ini...bersorak sorai kegirangan setelah sampai di air terjun ini sambil berfoto-foto. Bahkan ada yang langsung nyemplung ke kolam di bawah air terjun sambil menikmati air terjun, sampai pakaian yang mereka kenakan basah kuyup semua...benar-benar menikmati keindahan alam...
Sebenarnya potensi dan keindahan air terjun ini sangat bagus.Namun sehubungan dengan adanya batang pohon besar yang melintang di depan kolam tempat jatuhnya air sangat mengganggu pemandangan yang seharusnya bagus.
Kolam tempat air yang jatuh ke bawah pun jadi kecil. Jadi terkesan hanya semaacam penampungan saja. Namun secara keseluruhan, tempat ini sangat bagus. Jika suasana hati berkeinginan berwisata alami yang cukup menguras energi dan pikiran, saya rasa lokasi wisata ini sangat cocok untuk membunuh kepenatan dari rutinitas kesibukan sehari-hari.
Selang beberapa waktu kemudian, setelah kami menjelajah ke Coban Rais, kami pun meneruskan perjalanan kami menuju ke arah utara lagi dari kawasan Batu. Tujuan kami adalah tempat dimana sering diadakannya paralayang. Maka tempat itu biasa disebut sebagai Paralayang, masuk di kawasan Pujon, kabupaten Malang. Jalan berliku-liku sangat ekstrem, namun sudah beraspal halus. Jadi jika mengendarai kendaraan pribadi harus hati-hati. Karena ada beberapa bagian yang di samping jalan raya ini ada tebing yang sangat dekat dengan pinggir jalan ini.
Paralayang, tempat ini berupa bukit yang cukup tinggi, dimana kita dapat memandang kota Batu (khususnya) dari ketinggian. Tempat yang akrab bagi pengunjung para muda kawasan Malang, Batu, dan sekitarnya menjadi tujuan favorit para muda-mudi yang dilanda kasmaran. Tempatnya yang cukup tenang, sepi, dengan suasana pemandangan yang sangat indah.
Tidak banyak aktifitas yang dapat kita lakukan di sini, selain menikmati keindahan kota dari atas bukit ini. Jika kita beruntung, kita dapat menyaksikan sesekali para olahragawan paralayang beraksi dari tempat ini. Namun, kami saat itu tidak beruntung, karena tidak adanya para olahragawan paralayang yang sedang berlaga di tempat ini.
Namun kami cukup bangga, bahwa di kawasan Malang Raya, masih ada kawasan yang cukup potensial dan bagus untuk dijadikan tempat wisata sebagai pembunuh rasa jenuh, sumpek, dari rutinitas kesibukan sehari-hari.
Foto terakhir itu adalah kami, para petualang yang sedang memandang keindahan kota dari Paralayang...