Berikut adalah gambar2 yang saya dapat dari berbagai sumber. Namun saya tidak dapat menyebutkan darimana asal sumber tersebut karena didapat dari koleksi "copy-paste" dari temannya-kawan,kawannya-teman,temannya-teman, kawannya-kawan saya.... :)
Aloon-Aloon Hotel (1925)

Nama "Aloon-Aloon" inilah yang melegenda hingga sekarang. Dimana ini seiring dengan perkembangan jaman berubah menjadi nama "Alun-alun". Alun-alun yang berada di Malang ini pula yang sampai saat sekarang masih tetap ada dan tetap dipertahankan keberadaannya. Ada yang menyebut namanya dengan sebutan "Alun-alun kota". Sempat beberapa waktu yang lalu akan "dirombak" sedemikian rupa dengan membangun sebuah pusat perbelanjaan yang berada di bawah alun-alun ini. Hal ini sempat mendapat tentangan keras dari berbagai pihak dan golongan. Sehingga rencana inipun urung dilakukan. Bila menyimak gambar tersebut di samping ini (bagi warga Malang), pasti tidak asing lagi. Yup, betul! Gambar ini adalah gambar suasana kota Malang , tepatnya di Jl. Merdeka Barat. Gambar yang terlihat seperti diapit 2 menara itu adalah gambar Hotel Pelangi (sekarang). Meskipun sekarang telah mengalami sedikit perubahan, namun tidak banyak merubah karakter dari bangunan dan fungsi bangunan tersebut.
Masjid Agung Jami' Malang
Masjid Agung Jami' Malang, atau biasa disebut Masjid Jami' adalah salah satu bangunan bersejarah yang keberadaannya sangat diperhatikan hingga saat ini. Karena masjid inilah menjadi pusat segala sesuatu yang terjadi dengan peristiwa/kejadian yang berkaitan dengan kegiatan umat Islam wilayah Malang Raya bermula. Misalnya, penentuan lebaran, dll. Masjid ini terletak di sebelah barat alun-alun kota. Tepatnya berada di Jl. Merdeka Barat. Tampak di sini perkembangan wujud bangunan masjid tersebut dari tahun 1910 yang tampak "sederhana". Namun untuk masa itu bangunan itu tampak sebagai bangunan yang megah di masa itu. Terlihat pohon beringin yang daunnya tidak serimbun seperti yang tampak pada saat ini.
Gambar disamping ini juga gambar dari Masjid Agung Jami' Malang. Yang ini adalah diambil pada tahun 1925. Dimana tampak adanya sedikit perubahan yang terjadi pada bangunan ini. Terlihat jelas adalah penambahan pagar di depan masjid dan tampak para jamaah sedang keluar dari masjid tersebut. Dua menara yang menjadi ciri khas masjid tersebut masih tetap dipertahankan sehingga sekilas tampak tidak adanya perubahan yang mencolok pada masjid ini di tahun 1910 dan 1925.Yang nampak jelas persamaan di ketiga gambar tersebut adalah penataan tata ruang kota yang sangat teratur, bersih dan rapi. Maka terlihat bahwa pemerintah kota saat itu sangat memperhatikan akan keasrian, keteraturan dan keindahan kota.
Sedangkan gambar disamping ini merupakan gambar tampak (lebih) dekat dari Masjid Agung Jami' Malang di bulan Januari tahun 1948 (diketahui dari tulisan yang terdapat dalam pengambilan gambar di foto tersebut). Tidak jelas siapa yang mengambil gambar masjid ini. Namun disini terlihat bahwa pada masa ini tampak tidak banyak perubahan arsitektur yang terjadi pada masjid ini. Tetap mempertahankan arsitektur yang ada. Sekali lagi, tampak asri dan teraturnya suasana kota masa itu...Hotel Jansen (1910)
Nampak sekali suasana tradisionalnya masih kentara. Dilihat dari kendaraan tradisional dokar, yang masih menunggu penumpang di pinggir jalan.
Gedung Concordia (1935)
Gedung Concordia (sekarang pusat perbelanjaan Sarinah) merupakan gedung pertemuan yang sangat besar. Sedemikian strategisnya letak gedung ini membuat peran gedung ini sangat penting. Tepatnya terletak di ujung pertemuan Jl. Merdeka Utara dan Jl. Merdeka Barat (masih di kawasan alun-alun kota). Para pejuang (juga para pelajar-pejuang), pada masa-masa perjuangan kemerdekaan, juga sempat mengadakan pertemuan di tempat ini.
Gereja Kajoetangan
Gambar disamping ini adalah Geredja Kajoetangan yang belum bermenara awal 1905.
Gereja Hati Kudus Yesus yg masih belum bermenara ini lebih dikenal dengan nama Gereja Kayutangan dan didirikan tahun 1905 oleh arsitek MJ. Hulswit (1862-1921) berdiri di lokasi Jalan Kayutangan, yg sekarang menjadi Jalan Basuki Rahmad. Bila dirunut menurut letak, di sebelah kiri gereja ini adalah letak dari gedung Concordia di masa mendatangnya.
Sedangkan gambar di samping ini adalah diambil dari salah satu sudut kawasan pertokoan Kayutangan di sekitar tahun 1948. Di latar belakang tampak berdiri gereja Kayutangan dengan kedua menara kembarnya. Nampak terlihat suasana keramaian di sekitar kawasan ini. Dimana dokar menjadi salah satu jenis angkutan yang ramai dipergunakan. Nampaknya aliran listrik sudah dikenal di masa ini (terlihat jelas tiang listrik berdiri kokoh di pinggir jalan). Geredja Protestan (1940)
Nampak dilatarbelakangi oleh bangunan Masjid Agung Jami' Malang.
Penjara Aloon2 Timoer (1910)
Kawasan Pertokoan Kayutangan
Gedung Kembar di Perempatan Kayutangan
Berlokasi di perempatan Kayutangan yg didirikan tahun 1935 dan diarsiteki oleh Karel Bos. Merupakan pusat kawasan keramaian di Malang saat itu (hingga sekarang). Pertigaan Kayutangan (1940)
Jam kuno yg tampak dalam gambar beserta penunjuk arah kota/daerah, sampai saat ini masih ada (dengan latar belakang sekarang gedung PLN sekarang). Oleh PLN, arsitektur bangunan tetap dipertahankan, hanya merubah warna gedung saja yang dilakukan. Sehingga gedung tampak lebih "fresh". Inilah tempat 0 km dari kota Malang.
Sedangkan gambar di samping ini adalah salah satu sudut pengambilan gambar dari 0 km kota Malang yang diambil di bulan Januari tahun 1948. Nampak tidak banyak perubahan yang terjadi jika dibandingkan dengan gambar di atas. Dilatarbelakangi gedung berwarna putih tersebut (sekarang) menjadi sebuah toko swalayan "Avia". Pihak toko pun tidak banyak merombak total arsitektur gedung tersebut. Agar disesuaikan dengan perubahan jaman, hanya pengecatan yang dilakukan oleh pihak toko, dan sedikit memberi variasi arsitektur dengan memberikan kaca di depan toko. Tjelaket (Claket - Februari 1948)
Gambar di latar belakang bertanda palang merah tersebut adalah cikal bakal berdirinya sebuah rumah sakit terbesar kedua di Jawa Timur, yakni Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang (sekarang). Penataan sedemikian rupa ini rupanya telah dilakukan oleh pemerintah kota waktu itu (mungkin oleh pemerintah Hindia Belanda ya??). Sehingga kawasan Kayutangan menjadi kawasan penting, dan menjadi poros kota sampai sekarang.Sumber : - www.djawatempodoeloe/multiply.com
- (temannya kawan/kawannya teman/temannya teman/kawannya kawan, coz tidak
diketahui asal-usul beberapa gambar ini)
No comments:
Post a Comment